Main ke Keraton Kanoman Cirebon

Clara, kak Elly, kak Wawa, saya sendiri, kak Yayat dan Mila
dok. Satto Raji

dok. Satto Raji


Awal bulan ramadhan kemarin saya bersama teman-teman blogger Crony melakukan staycation ke Cirebon, pada hari Sabtunya ada Blogger Gathering bersama Batiqa Hotel Cirebon. Untuk pertama kalinya saya bertemu dengan teman-teman blogger dari Cirebon, keseruan blogger gathering saat Ramadhan di Batiqa Hotel Cirebon

Minggu pagi sesuai dengan jadwal kita mau main ke Keraton Kanoman, tapi ternyata gak semuanya bisa ikutan. Doel dan Akbar masih tidur pagi itu jadi yang pergi ke keraton hanya mbak Wawa, mas Satto yang selalu motoin kita selama di keraton, mbak Yayat, mbak Elly, Mila dan Clara. Kebayang dong ya lagi pada puasa semua itu terus jalan-jalan dan Cirebon pada saat itu lagi panas.

Masuk keraton Kanoman pada hari itu gratis alias gak bayar, apa karena lagi puasa? Soalnya kalau ke keraton Kasepuhan dikenakan biaya masuk waktu itu. Seingat saya pada hari itu pengunjung keraton hanya kita saja, walau di dalamnya banyak terdapat banyak mobil terparkir entah pada kemana orangnya.

Ini waktu mau masuk kedalam sempat bingung nyari pintu masuknya dan berujung dapet spot kece buat foto bersama, hahahahaaa... 

Berfoto bersama guide di Keraton Kanoman (dok. Satto Raji)
dok. Satto Raji

Waktu masih kerja di Media Bintang Indonesia, saya pernah membawa pembaca tabloid Bintang Home ke keraton Kanoman tapi dahulu beda sekali dengan waktu kemarin saya kesana. Sekarang ini saya lebih melihat kurang dirawat dan banyak sampah juga pas kemarin kesana. 

Waktu masuk ke area keraton ada seorang ibu yang menghampiri kita dan mengajak ngobrol mbak Wawa dan akhirnya dia menjadi guide selama kita di dalam keraton. Mencerita segalanya tentang keraton Kanoman, para sultan dan pengikutnya. Kebayang deh kalau jaman dulu tuh bangunan keraton ini megah banget dan keren. 

Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I pada sekitar tahun 1678 M. Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal, seminggu setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga dikenal dengan Syarif Hidayatullah. (Sumber Wikipedia)

Kemarin itu benar-benar di ajak berkeliling keraton sama si ibu, sampai melihat beberapa sumur untuk tempat pemandian yang sampai sekarang pun katanya masih suka banyak yang kesana untuk melakukan ritual-ritual. Selain itu kami juga melihat Pulantara yang sudah di revitalisasi, bagunannya bagus banget dan didepannya ada kolam besar. 

dok. Satto Raji

dok. Satto Raji
Dibelakang keraton, lebih tepatnya di area Pulantara ini banyak spot foto cakep loh. Jadi kemarin waktu main ke keraton selain menambah pengetahuan tentang sejarah keraton Kanoman jadi nambah koleksi foto pembuktian bahwa sudah main ke keraton Kanoman.

Saya salut dengan ibu yang menemani kita selama di keraton karena di usianya yang sudah berumur dia masih hafal semua cerita tentang keraton, ibunya pun bersemangat sekali menceritakan pada kami. Ibu itu juga sambi membersihkan keraton pada saat kami disana, semoga ibu selalu diberi sehat ya bu dan terus menyebarkan cerita mengenai sejarah agar anak-anak penerus bangsa ini tau arti sejarah.

Gedong Gajah Mungkur

Bangunan yang masih asli ini sempat saya foto sebelum meninggalkan keraton Kanoman, bangunan yang memiliki banyak cerita. Ini namanya Gedong Gajah Mungkur, merupakan bangunan yang menghadap ke timur yang berfungsi sebagai tempat menyimpan lonceng besar dengan ukuran 3 x 2 x 2,5 meter, berlantai semen, berdinding bata yang dilabur putih dan beratap genteng.

dok. Satto Raji
Berfoto di Lawang Seblawong yang merupakan gerbang besar yang terbuat dari batu bata yang dilabur putih berbentuk kori agung (paduraksa)  dengan tinggi 9 meter, lebar 4,8 meter dan tebal 2 meter, pada bagian tengahnya terdapat sebuah pintu yang terbuat dari kayu jati. Lawang Seblawong dihiasi oleh piring-piring keramik yang ditempelkan pada permukaan dindingnya. Lawang Seblawong hanya dibuka pada waktu perayaan maulid nabi Muhammad SAW

Semoga selanjutnya saya bisa terus menginjakan kaki dibangunan bersejarah yang ada di Indonesia tercinta ini.


Happy reading!

1 komentar

  1. Peninggalan sejarah yang mesti dilestarikan. Salah satu upaya melesatarikannya bukan hanya sekedar melalui perawatan bentuk fisiknya, tapi termasuk asal-usul ceritanya. Informatif sekali!

    BalasHapus