Lifestyle || Travel || Foodie

1/01/2019

Mengenal Lebih Dekat Hutan Sosial

dok.Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan

Perhutanan Sosial adalah sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat yang dilaksanakan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya. 

Sebelum menutup tahun 2018, Tempo dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengadakan acara dengan tema "Refleksi Hutan Sosial 2018" yang dilaksanakan di Arborea Cafe, Arboretum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Ini sesuatu yang beda untuk saya bisa menghadiri acara tersebut, disaat orang-orang sudah liburan namun saya lebih excited mengetahui apa itu Tokoh Hutan Sosial. Koran Tempo memilih perhutanan sosial yang dinilai sebagai yang terbaik.


Di era Pemerintahan Joko Widodo menargetkan 12,7 juta hektare area yang masuk dalam kategori perhutanan sosial pada 2015-2019. Hingga bulan November 2018, target sudah tercapai 2,13 juta hektare atau 16,8 persen. 

Adapun skema yang digunakan untuk Perhutanan Sosial adalah sebagai berikut:
  1. Hutan Desa (HD) dengan tenurial HPHD atau Hak Pengelolaan Hutan Desa
  2. Hutan Kemasyarakatan (HKm), izin yang diberikan adalah IUP HKm atau Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan
  3. Hutan Tanaman Rakyat (HTR), izin yang diberikan adalah IUPHHK-HTR atau izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Tanaman Rakyat
  4. Hutan Adat (HA), tenurialnya adalah Penetapan Pencantuman Hutan Adat
  5. Kemitraan Kehutanan (KK) dalam bentuk KULIN KK atau Pengakuan Perlindungan Kemitraan Kehutanan dan IPHPS atau Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial di Pulau Jawa

Ibu Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Pada siang itu ibu Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan Republik Indonesia turut hadir diacara diskusi Refleksi Hutan Sosial 2018. Ibu Siti Nurbaya mengucapkan terima kasih kepada Koran Tempo yang sudah mendukung Hutan Sosial dan memberikan apresiasi untuk Tokoh Hutan Sosial. 

Selain itu hadir juga bapak Budi Setyarso-Pemimpin Redaksi Koran Tempo, bapak Bambang Supriyanto-Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK, bapak Didik Suharjito-Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB dan moderator bapak Bagja Hidayat-Redaktur Pelaksana Tempo.

Setelah melakukan penjurian akhirnya disepakati memilih sembilan hutan sosial. Dengan menggunakan lima skema Perhutanan Sosial, juri berkonsensus memilih 4 hutan kemasyarakatan, 2 hutan desa, 2 hutan adat dan 1 hutan kemitraan. 

Berikut 9 Tokoh Hutan Sosial Pilhan Koran Tempo:
1. Hutan Batu Ampar, Kubu Raya "Mereka Panen Kepiting"
dok. Koran Tempo
Nama hutan: Hutan Desa Batu Ampar, Bentang Pesisir Padang Tikar
Kabupaten: Kubu Raya
Provinsi: Kalimantan Barat
Kategori: Hutan Desa
Luas Hutan: 33.140 hektare dari total luas 76.370 hektare hutan di wilayah Bentang Pesisir Padang Timur

2. Hutan Desa Jorong Simancuang, Solok Selatan "Seribu Usaha Menjaga Hutan"
dok. Koran Tempo
Nama Hutan: Hutan Alam Simancung Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo
Kabupaten: Solok Selatan
Provinsi: Sumatera Barat
Luas Hutan: 650 Hektare dari total luas hutan lindung 1.500 hektare, Area permukiman dan pekarangan 30 hektare



3. Hutan Adat Tembawang Tampun Juah, Sanggau "Bangkit dari Kepungan Sawit"
dok. Kotan Tempo
Kategori: Hutan Adat
Luas: 651 Hektare
Penggerak: Masyarakat Adat Segumon
Pendamping: Institut Dayakologi
Penduduk: 665 Jiwa


4. Hutan Adat Marena, Enrekang "Tak Lagi Tertutup"
dok. Koran Tempo
Nama Hutan: Hutan Masyarakat Adar Marena
Kecamatan: Anngareja
Kabupaten: Enrekang
Provinsi: Sulawesi Selatan
Penggerak: Masyarakat Hukum Adat Marena
Pendamping: Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Sulawesi Selatan
Offtaker (penampung hasil produksi): Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Enrekang
Jumlah Keluarga: 790 keluarga
Total Hutan Adat yang direalisasi: 155 hektare
Letak Hidrologis: Daerah Aliran Sungau Saddang

Luas Hutan Adat yang Diklaim:
Kawasan Hutan Adat (hutan lindung): 68,45 hektare
Kawasan Hutan Adat (hutan produksi): 80,95 hektare
Total Hutan Adat yang Diklaim: 149,41 hektare


5. Hutan Kemitraan Wono Lestari, Lumajang
dok. Koran Tempo
Nama Hutan: LMDH Wono Lestari, Desa Burno, Kecamatan Senduro
Kabupaten: Lumajang
Provinsi: Jawa Timur
Kategori: Hutan
Luas Hutan: 940 hektare
Penggerak: Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH)
Pendamping: Perhutani


6. Hutan Kalibiru, Kulon Progo, Yogyakarta "Memakmurkan dari Ketinggian"
dok. Koran Tempo
Hutan Kemasyarakatan Kalibiru
Desa; Hargowilis
Kecamatan: Kokap
Provinsi: Daerah Isimewa Yogyakarta
Kategori: Hutan Kemasyarakatan
Luas Hutan: 29 Hektare
Penggerak: Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan Mandiri Kalibiru
Pendamping: Yayasan Damar


7. Hutan Aik Berik, Lombok Tengah "Membuat Gawah Kembali Rimbun"
dok. Koran Tempo

Nama Hutan: Hutan Kemasyarakatan Gabungan Kelompok Tani Rimba Lestari, Aik Berik, Batukliang Utara
Kabupaten: Lombok Tengah
Provinsi: Nusa Tenggara Barat
Kategori: Hutan Kemasyarakatan
Luas Hutan: 840 Hektare
Kelompok Hutan: Gunung Rinjani (RTK 1)
Wilayah Kerja: BKPH, Rinjani Barat Palangan Tastura


8. Hutan Bukit Rigis, Lampung Barat "Panen Kopi di Hutan Negara"
dok. Koran Tempo

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan izin pengelolaan hutan lindung di Lampung Barat menjadi hutan kemasyarakatan. Berdasarkan data Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) II Liwa, Lampung, ada lima lokasi hutan lindung yang diberikan izin pengelolaannya kepada masyarakat. Sebagian besar menjadi hutan kopi. Hingga pertengahan 2018, KPH II Liwa mencatat ada 50 kelompok tani yang berkebun dan berusaha di atas 24.796,46 hektare hutan lindung.


9. Hutan Lubuk Kertang, Langkat "Meraup Untung di Hutan Bakau"
dok. Koran Tempo

Nama Hutan: Hutan Mangrove Lubuk Kertang
Kabupaten: Langkat
Provinsi: Sumatera Utara
Kategori: Hutan Kemasyarakatan
Luas: 410 hektare
Penggerak: Rohman
Pendamping: Tadjruddin Hasibuan, Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Sumut
Off-taker: Bachtiar


Tokoh Hutan Sosial (dok. Akuchichie)

Pada hari itu 9 Tokoh Hutan Sosial tunrut hadir pada saat acara tersebut. Tak hanya sekedar mendengarkan dari Koran Tempo bagaimana mereka akhirnya bisa sukses menggelar acara "Tokoh Hutan Sosial".  

Happy Reading

30 komentar on "Mengenal Lebih Dekat Hutan Sosial"
  1. Bagis sekali ya mba acaranya semoga akan semakin banyak orang yang sadar lingkungan, dan menjaga kelestarian hutan.

    BalasHapus
  2. baru tahu istilah hutan sosial dan ada hutan desa, hutan adat, hutan kemasyarakatan bahkan sampe ada pemilihannya ya mba aku makin tahu tentang hutan sosial

    BalasHapus
    Balasan
    1. keren deh acara ini salut buat Tempo yang aware dengan lingkungan hidup

      Hapus
  3. Ilmu baru nih, jadi tau beragam nama2 hutan. Kalau orang awam mah nyebutnya tetep aja hutan doang.

    Btw, hutan2 itu masih ada binatang2 buasnya ga ya? Secara kalau sudah dipegang pemerintah pastinya terawat dan perkembangbiakan hewan hutan juga makin baik.

    BalasHapus
  4. Ternyata banyak macam hutan ya.

    Untuk yang di Langkat tahu itu aku, karena dulu pernah tinggal di kota Langkat.
    Tapi keren banget ini apresiasi dari Kementerian LH&Kehutanan serta Tempo, semoga bisa memicu semangat banyak pihak untuk melestarikan dan menyelamatkan hutan di Indonesia.

    BalasHapus
  5. Keren banget ya acaranya. Baca postingan ini jadi makin suka deh aku sama hutan. Dulu waktu kecil aku sering banget main ke hutan. Tapi sekarang sudah nggak pernah lagi.

    BalasHapus
  6. Wes keren bun. Orang lain lagi liburan tetapi bunda tetap nyari ilmu ��. Aku baru tahu bun kalau ternyata hutan sosial itu ada beberapa skemanya ya bahkan ada juga hutan adat. Ilmu yang nggak di dapetin di sekolah

    BalasHapus
  7. Yang no.9 cakep beneeer. Enak kayaknya ngeluyur kesitu yak. Baru tau hutan juga ada nama namanya.

    BalasHapus
  8. ooo.. ternyata hutan pun ada "tokoh"-nya ya..

    BalasHapus
  9. baru tahu kak cici soal jenis hutan. aku baru mengunjungi salah satu diantara yang kakak sebut diatas yaitu langkat sumatra utara. taun ini mau melihat di solok ah karena kebetulan pulang kampung

    BalasHapus
  10. Bagus ya kalau acara begini, jadi kita juga bisa tahu tentang hutan serta bagaimana cara untuk menjaga keasriannya. Dan saya pengen sekali ke Hutan Mangrove Lubuk Kertang, itu cakep bangeeeet...

    BalasHapus
  11. Wah ternyata Hutan Kemasyarakatan Kalibiru masuk dalam daftar juga. Dari semua hutan yang disebutkan baru pernah ke Kalibiru, saat belum seramai sekarang. Sebagai anak Indonesia salah satu keinginan saya adalah menjelajah hutan-hutan di nusantara, kayaknya seru.

    Btw Arborea Cafe dan lingkungan sekitarnya itu juga hutan kota yang adem banget. Senang berada di sana.

    BalasHapus
  12. Masya Allah, indah semua dan akan bermanfaat, apalagi jika terlestarikan kelak.
    Ada juga di SUlawesi Selatan: Hutan Masyarakat Adar Marena di Enrekang. Wah, orang Enrekang perlu berbangga.

    BalasHapus
  13. Acaranya keren ya mba, kita jadi tahu kalo ada target hutan sosial di negeri ini. Aku jadi penasaran pengen ke hutan sosial yang ada di Lampung itu

    BalasHapus
  14. Aku galfok dengan pemandangan di Hutan Alam Simancung Pauh Duo, cantik bangeet. mirip lukisan jaman SD dulu yaa.. Dan Kalibiru yang di Kulonprogo itu memang warga desanya luar biasa, mereka sadar dg potensi pariwisata desanya, jadi sama-sama menjaga, pas kesana pertama kali dibuat kaget dengan penjagaan swadaya warga yg sangat membantu pengunjung kalibiru.

    BalasHapus
  15. aseli mbak, fotonya bagus2, aku langsung ngebayangin lagi ada di salah satu hutan tersebut.. pemandangannya bagus banget ya.. disini udah gak ada hutan, lihat pohon besar aja udah seneng banget kayaknya.. emang harus dijaga banget ya kelestarian hutan itu

    BalasHapus
  16. Ternyata ada banyak istilah buat hutan ya. Selama ini aku tahunya hutan adat aja. Seru banget ini acaranya. Bikin kita lebih kenal lagi sama hutan di Indonesia. Seger banget liatnya..

    BalasHapus
  17. aku tuh terharu banget waktu menghadiri acara ini kak. Ya ampun betapa negara kita tuh luas banget dan selama ini belum diurus dg baik saking luasnya. untung punya para tokoh sosial ini ya kak. mereka berjasa dan menginspirasi banayk orang.

    BalasHapus
  18. Aku kemana aja ya baru tau ada Hutan Sosial dan ternyata indah indah pemandangannya. Indonesia memang kaya banget alam nya ya.

    BalasHapus
  19. Wah ini maksudnya hutanya dikelola pemerintah ya? Keren euy. Semoga program ini bisa meningkatkan pelestarian hutan kita yaa

    BalasHapus
  20. Salut dengan tokoh hutan sosial. Tetap menjaga kelestarian hutan demi ekosistem di sekitar.

    BalasHapus
  21. Baca artikelnya jadi banyak tahu tentang hutan dan menambah wawasan. Ternyata hutan kalibiru bukan termasuk hutan sosial ya.

    BalasHapus
  22. Yeeay ada hutan Enrekang, banyak Teman2 di sana ah jadi pengen berkunjung. Bagaimana pun melestarikan hutan adalah tanggung jawab kita semua yah, jadi mesti membantu pemerintah juga ��

    BalasHapus
  23. Menurutku keuntungan kalau hutan dikelola masyarakat adalah masyarakat akan ikut memiliki dan emrasakan betapa manfaat hutan itu. Asal dijaga supaya gak ada oknum nakal yg suka nebang2 hutan aja.
    Moga hutan2 di indonesia makin lestari ya mbak :D

    BalasHapus
  24. Yang kebayang kalau ngomongin hutan adalah serem ha-ha-ha. Tapi lihat Hutan hutan ini langsung ilang tuh kesan serem, malah Asri dan sejuk ya. Apalagi pohon adalah penghasil oksigen, penting banget untuk kelangsungan hidup manusia loh

    BalasHapus
  25. Hhhmmm.... Hutan Meratus koq ga ada ya, padahal ada masyarakat adat yang turut menjaga kelestariannya, semoga masuk dalam jangka waktu dekat krn hutan Meratus sedang diincar tambang, hiks

    BalasHapus
  26. Kalau boleh jujur, aku sebenarnya kurang bergaul sama alam.
    Kalau pergi ke hutan (khususnya) suka takut.

    Tapi aku optimis, kerjasama dengan pemerintah dalam melestarikan hutan akan berdampak baik untuk keseimbangan lingkungan.

    BalasHapus
  27. MasyaAllah, hutan sosial ini jadi beneran pengen kenal lebih dekat, seneng sama pengenalan semacam ini semoga di tempatku ada acara seperti ini pengen ikutan nambah wawasan juga

    BalasHapus
  28. Hutam-hutan yang ada di Indonesia wajib banhet dijaga. Selain untuk memcegah banjir, bisa dijadikan sumber pendapatan juga untuk masyarakat sekitar. Asaaall tetap dijaga aja sih ya setelah dijadikan tempat wisata.

    BalasHapus
  29. Yang bikin bangga sama Indonesia karena masih banyak hutan tapi masih perlu pengawasan agar tidak dibakar liar sama orang-orang yg tdk bertanggung jawab

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir ke personal blog saya, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya.