lifestyle | travel | foodie | personal life

2/03/2019

Apakah Berat Badan si Kecil Sesuai Dengan Umurnya?

Photo by Stock Image
Waktu lagi hamil mas Kelvin yang paling utama saya lakukan adalah mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Sudah pasti memang akan ada perubahan dari pola makan juga porsinya. Ibaratnya apapun akan saya makan demi perkembangan yang sehat untuk anak saya. Ini saya lakukan semata untuk tumbuh kembang anak saya sendiri.

Alhamdulillah dulu mas Kelvin lahir dengan berat badan yang cukup 3kg dan dengan panjang 50cm. Mengingat waktu hamil mas Kelvin saya juga memiliki miom yang akhirnya diangkat saat lahiran. Konon katanya ibu yang memiliki miom jika melahirkan maka berat anak biasanya kurang dari 2,5kg, alhamdulillah mas Kelvin beratnya 3kg.

Mulai dari konsultasi dengan dokter anak, mencari informasi di media online dan sharing dengan beberapa teman menjadi lahapan sampai hari ini. Setiap orang tua tentu memiliki pola asuh yang berbeda dan pasti baik menurut mereka. 

Disaat sekarang ini mas Kelvin berusia lima tahun dan alhamdulillah berat badannya pun normal dengan tinggi badan yang pas diusianya. Tapi serius deh kadang saya pun masih mengalami rasa takut apakah berat badannya cukup dan apakah perkembangannya pun bagus. 

Dukung Orang Tua Cek Berat Badan Ideal Anak Untuk Tumbuh Kembang Optimal
Seperti yang kita ketahui bahwa di Indonesia pada sekarang ini tidak semua anak memiliki berat badan yang cukup dan tumbuh dengan optimal. Dibeberapa daerah masih banyak kita jumpai anak dengan berat badan kurang, kekurangan gizi, dan tumbuh kembang yang tidak sesuai dengan anak seusianya.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan satu dari lima anak Indonesia mengalami berat badan kurang. Jika kondisi ini terjadi pada anak dalam usia tumbuh kembang dan tidak segera diintervensi, maka anak dengan berat badan tidak ideal terancam menjadi wasting (gizi kurang), bahkan dapat menyebabkan stunting (tubuh kerdil).

Berdasarkan data Riskesdas 2018, presentase underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) pada kelompok balita di Indonesia mencapai 17.7%. Data tersebut menunjukkan bahwa angka anak yang menderita kekurangan gizi di Indonesia ternyata masih tinggi, karena diatas ambang batas yang ditetapkan badan kesehatan dunia (WHO) yaitu 10%.

DR. dr. Conny Tanjung, Sp.A(K), Bapak Arief Mujahidin - Communication Director Danone Indonesia,
Ajeng Raviando - Psikolog, Kaditha Ayu dan Dallas Pratama - Selebriti Indonesia
Hari Selasa, 29 Januari 2019 bertempat di Harlequin Bistro saya menghadiri acara Nutrisi Untuk Bangsa (NUB) dengan pembahasan yang sangat menarik "Dukung Orang Tua Cek Berat Badan Ideal Anak Untuk Tumbuh Kembang Optimal".

DR. dr. Conny Tanjung, Sp.A(K) pada kesempatannya menjelaskan bahwa "status gizi kurang merupakan salah satu permasalahan pertumbuhan yang mengacu pada kondisi berat badan yang ideal menurut tinggi badan. Kondisi ini dapat diakibatkan oleh asupan gizi yang kurang, penyakit kronis, masalah kesulitan makan, praktek pemberian makan yang salah dan ketidaktahuan orang tua".

Resiko yang dialami jika berat badan pada anak kurang, diantaranya:
  1. Penurunan sistem kekebalan tubuh sehingga rentan terhadap penyakit
  2. Anak tidak tumbuh optimal dan cenderung tumbuh pendek
  3. Gangguan perkembangan otak dan fisik seperti gangguan daya pikir hingga interaksi sosial
  4. Berbagai penyakit degeneratif

Foto by Google
Sebagai orang tua, kita harus mengetahui berat badan dan tinggi anak. Setiap kunjungan ke dokter anak pertumbuhan tersebut selalu dicatat dalam buku tumbuh kembang mas Kelvin. Jadi saya pun jadi tau perkembangannya. 

Berikut berat badan ideal pada anak:
  • Usia bayi 0-3 tahun berat badan ideal adalah 2,7 kg sampai dengan 5,7 kg
  • Usia bayi 4-6 bulan berat badan ideal adalah 5,0 kg sampai dengan 7,4 kg
  • Usia bayi 7-9 bulan berat badan ideal adalah 8,0 kg sampai dengan 8,9 kg
  • Usia bayi 10-12 bulan berat badan ideal adalah 9,3 kg sampai dengan 9,9 kg

Yang paling mudah dilakukan dirumah untuk menghitung berat badan ideal bayi menggunakan rumus yang sudah diterapkan oleh WHO yaitu:

Anak dibawah 12 bulan: BBI = (n : 2) + 4 atau (umur (bulan) : 2) + 4
Anak 1 - 10 tahun: BBI = (2 x n) + 8 atau (2 x umur (tahun) + 8


Pola Makan, Pola Asuh dan Pola Pikir
Sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Psikolog, Ajeng Raviando bahwa "upaya perbaikan gizi memerlukan peran aktif keluarga, terutama orang tua dan dukungan penuh dari lingkungan sekitar. Selain memperhatikan pola makan dengan aktif mencari informasi dan mengkreasikan menu untuk membuat anak tertarik untuk mengonsumsi makanan bergizi. Dalam perspektif pola asuh, orang tua juga perlu turut andil memberikan contoh kebiasaan pola makan yang baik dirumah dan menyediakan waktu makan bersama yang berkualitas dengan anak. Di usia balita dimana anak menyerap apapun dengan cepat, orang tua juga perlu menyampaikan kalimat dengan positif agar tertanam afirmasi yang baik di benak mereka tentang makan."


Bersyukurnya saya bahwa mas Kelvin ini makannya gak susah, bahkan dari usia balita saat lepas asi dan mulai mengonsumsi MPASI saya juga memberikan menu yang bervariasi setiap harinya. Jam makan pun sudah saya biasakan terjadwal, mulai dari makanan utama, buah dan snacknya. 

Kalau ditanya pernah gak mengalami anak susah makan, kalau diingat-ingat belum pernah sih sampai gerakan tutup mulut (GTM). Saya percaya bahwa anak susah makan itu bukan berada dimasanya, tapi ada andil kesalahan orang tua. Disini orang tua diuji bagaimana menyiapkan menu makanan yang sekreatif dan anak juga senang makannya.

Biasanya saya selalu mengkombinasikan apa yang akan dimakan oleh mas Kelvin, sampai sekarang ini pun masih sama. Saya juga tidak pernah memaksa dia harus makan nasi, karbo gak melulu harus dari nasi loh.

Percayalah dulu saya selalu memasak dan membuat jadwal menu untuk mas Kelvin, maklum dulu masih kerja kantoran. Saya memiliki tekad "walau kerja kantoran setidaknya anak saya bisa makan dari apa yang dimasak oleh bundanya" alhamdulillah berhasil walau kadang masih ada campur tangan mamah saya dalam menyiapkannya disaat saya tidak dirumah.

Saya juga percaya dengan apa yang saya berikan juga dapat membantu memenuhi gizi yang diperlukan untuk tumbuh kembangnya. Apalagi sekarang sudah tidak bekerja kantoran jadi banyak waktu bisa memberikan asupan yang terbaik untuk mas Kelvin.

Sebenarnya yang paling penting itu adalah "pola pikir orang tua juga harus dibentuk positif dan mencari solusi secara bijak. Penting bagi orang tua untuk berpikir terbuka dalam menerima masukan dari lingkungan dan objektif dalam menerima rekomendasi ahli kesehatan untuk mengikuti petunjuk pemulihan gizi yang disarankan" jelas Ajeng Raviando.

Pengalaman Kaditha Ayu dan Dallas Pratama
Kaditha Ayu dan Dallas Pratama
Dihari itu pun ada Kaditha Ayu dan Dallas Pratama yang membagikan pengalaman mereka tentang pola asuh terhadap anak mereka Khal. "Sebagai seorang ibu, saya tentunya berupaya sebaik mungkin dapat memenuhi kebutuhan gizi Khal. Permasalahan sama yang mungkin juga banyak dihadapi ibu-ibu yaitu jika anak susah makan, karena Khal sangat pemilih soal makanan. Berbagai cara sudah dilakukan agar dia mau makan. Dirumah, saya dan suami menerapkan untuk selalu memberikan contoh yang bisa diteladani oleh Khal. Misalnya, kalau Khal ingin makan sayur, maka saya juga harus makan sayur. Jadi, tidak perlu menggunakan paksaan untuk mendukung asupan gizi anak tercukupi."

Selain itu Kadhita selalu memantau berat badan Khal untuk mewaspadai gejala berat badan kurang pada Khal, tindakan yang dilakukan adalah dengan memantau berat badan secara rutin dan berkonsultasi dengan ahli kesehatan terdekat untuk memastikan tumbuh kembang sesuai dengan usianya.

Khal sedang diukur tinggi badannya
Mengukur dan menimbang berat badan ini juga harus dilakukan seiring dengan pertumbuhan si kecil ya. Kalau saya yang paling sering dilakukan sebenarnya menimbang berat badan mas Kelvin, kalau mengukur tinggi badannya biasanya di play ground atau saat ke dokter.

Cek Berat Badan Anak Dengan Mudah
Permasalahan gizi memang masih menjadi tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini dan perlu kerjasama berbagai pihak untuk mengatasinya. Bapak Arif Mujahidin selaku Communication Director Danone Indonesia mengatakan "Sebagai perusahaan yang memiliki komitmen mendukung perbaikan gizi, tidak hanya menyediakan produk nutrisi dengan kualitas terbaik dan harga terjangkau, kami juga secara berkesinambungan memberikan edukasi mengenai gizi. Hal ini kami lakukan untuk memastikan bahwa kehadiran kamu dapat memberikan dampak kesehatan ke sebanyak mungkin masyarakat dunia khususnya untuk Indonesia.

Sekarang dalam perkembangan era yang serba digital ini buat para orang tua sudah gampang sekali jika ingin memantau berat badan anak. Danone Indonesia menyediakan platform website www.cekberatanak.co.id. Website ini diharapkan dapat memudahkan para orang tua dalam memantau berat badan ideal si kecil dari mana saja dan kapan saja. Dengan rutin mengecek kurva pertumbuhan anak melalui website ini, semoga orang tua dapat lebih siap dan waspada bila terjadi gejala berat badan kurang sehingga segera mencari solusi dengan berkonsultasi kepada ahli kesehatan terdekat. 

Happy reading!
23 komentar on "Apakah Berat Badan si Kecil Sesuai Dengan Umurnya? "
  1. wah kalau berdasarkan rumus di atas, berat badan anak kedua kayanya kurang deh. Hiks, PR nih. memang sih dia makannya pilih-pilih tapi kalau sudah ketemu yang dia suka, terus-terusan makan

    BalasHapus
  2. Wah, sedihnya saya mbak. Setelah pakai rumus BB anak saya masih dibawah standar. Padahal anaknya doyan makan, doyan jajan tapi aktifitas dia yang super nggak pernah bisa diam. Mesti digenjot lagi nih ngejar berat ideal.

    BalasHapus
  3. Sudah sejak alam berat badan anak saya di bawah standar, digenjot seperti apa pun ya berat bocah segitu-segitu aja. Dulu sempat mikir yang macem-macem sih. Tapi daripada emaknya kebanyakan pikiran akhirnya mikirnya dibalik gini, selama bocah aktif, kognisinya berkembang dengan baik, makan lahap, dan sehat yasudah lah. Berat badan segitu nggak apa-apa. Daripada emaknya stress hehehe.

    BalasHapus
  4. Anak yang beratnya kurang itu emang bikin khawatir. Anak ketiga saya dulu lahir beratnya 2,3 kg. Saya sudah mules-mules tapi pas periksa ke bidan dan diukur apanya gitu saya lupa, katanya belum saatnya anak ini lahir, bayinya terlalu kecil dan katanya kemungkinan stres.

    Pas tahu dia lahir dengan berat cuma segitu, saya nangis.
    Alhamdulillah, dengan terus memperhatikan asupan makanannya, sekarang dia sudah tumbuh jadi anak yang kuat beratnya malah melebihi teman-teman sebayanya

    BalasHapus
  5. jadi inget waktu si boy masih balita, tiap bulan pasti ke posyandu untuk nimbang berat.
    pokoknya waktu itu pesan petugasnya, grafiknya sebaiknya jangan kena garis kuning. untungnya waktu itu si boy BB nya pas...ealah setelah lima tahun malah lebih kayanya nih...makannya banyak soalnya...hehehehe....

    BalasHapus
  6. Dulu babyZril overweight, sebelum usia 8 bulan. Nah setelah itu, MP-ASI kan...susah sekali makannya. Hanya doyan mikcu mikcu...makan dikit. Alhasil 14 bln ini 10,8 Kg. Alhamdulillah dalam batas normal. Namun kalau lihat bayinya dulu yg seakan tak bisa kurua...ahahah. yg pemting sehat

    BalasHapus
  7. Anak pertama saya sudah divonis underweight oleh DSA, padahal di aplikasi Primaku oleh IDAI dibilangnya masih normal. Sedih sih menghadapi kenyataan, tapi sekarang sedang treatment karena katanya pencernaannya kurang bagus dan Alhamdulillah sudah menunjukkan kenaikan berat. Anaknya padahal aktif, kemampuan kognisi dan motorik bagus, tinggi badan juga normal. Tapi karena baca-baca info soal stunting akhirnya saya konsul DSA juga.

    BalasHapus
  8. Si kecil kalau mau ditimbang di posyandu sering bikin deg-degan apalagi kalau berat badannya nggak naik. Jadi penasaran mau cek berat badan si kecil udah normal apa belum lewat website www.cekberatanak.co.id deh

    BalasHapus
  9. Terkadang permasalahan gizi terhadap anak bukan karena tak ada makanan bergizi untuk anak ya Mbak. Lebih kepada ketelatenan orang tua dalam menyiapkan dan memberikan kepada sang buah hati. Semoga Mas Kevin tumbuh jadi anak yang diharapkan, sesuai harapan orang tua. Amin

    BalasHapus
  10. waktu usia satu tahun anakku susah makan mba. Tapi berat badan normal. Sekarang mau menginjak dua tahun, makannya normal. Kalau diajak makan pasti mau, tanpa harus buat drama dulu.
    Untuk cek Berat Badan rutin sebulan sekali saat posyandu/atau memeriksakan langsung ke bidan.

    BalasHapus
  11. Anakku yang bungsu nih kurang dikit dari berat ideal. Dan emang pengalaman 3 kali habis ngASI eksklusif semuanya begitu. Jadi usia sekitar 8 bulan ke atas BB gak ideal lagi (turun). Penyesuaian MPASI kali ya :)

    BalasHapus
  12. Jujur aja saya termasuk kurang memperhatikan berat badan anak secara berkala.. ngukur berat badan anak juga cuma kalau imunisasi atau berobat ke dokter aja.. soalnya anak2 saya termasuk bongsor kalo dibanding dengan sebayanya. Padahal seharusnya nggak boleh begitu ya, hehe

    BalasHapus
  13. TFS mbak chie. memang sekrang kita mhadapi persoalan ganda ya. di satu sisi masih banyak anak kurang BBnya. di sisi lain ada saja anak2 overweigt yang bener-bener over. anal kedua saya sempat sakit2an pas kecilnya (usia setahunan). jd pernah di masa sangat kurusss karena tiap sakit susaaah makan. bersyukur sekarang bbnya sudah bagus. dengan rumus tadi malah sudah lebih 2 kg. mudah2an nggak jadi overweight ke depannya.

    BalasHapus
  14. Akun termasuk yg suka ngukur badan anak, soalnya anak2ku pas lahir mungil2 kan, jdnya kalau soal gizi aku bener2 perhatikan supaya mereka bisa mencapai BB optimal.
    Skrg enak ya bisa pakai alat ukur cek berat anak gtu, jd ada catatan digitalnya :D

    BalasHapus
  15. Anakku yang bungsu 9 tahun, berdasarkan rumus di atas kurang BBnya...Dari dulu memang ceking anaknya, padahal mau makan juga. Beda dengan si kakak yang memang perawakannya bongsor kayak bapaknya.
    Tapi memang pengecekan secara berkala tumbuh kembang si kecil penting yaaa agar jika ada apa-apa bisa segera kita atasi permasalahannya.

    BalasHapus
  16. Setelah cek berat badan anak2ku berdasarkan perhitungan BBI, alhamdulillah mereka BBnya ideal. Cuma mmg mepet banget. Lewat artikel ini, saya jadi tahu cara peduli lho mbak soal BBI anak. Nice share, mbak.

    BalasHapus
  17. Iya mba, nggak nyangka stunting ngga hanya masalah anak yang keluarganya pas-pasan ya, anak dari keluarga kecukupan pun bisa terkena, dan harus dipantau terus

    BalasHapus
  18. Anakku jauh di bawah Mbak. Usia hampir 27 bulan tapu beratnya masih sekitar 10kg aja. Udah bingung saya mau diapain lagi. Makannya emang agak susah juga anaknya.

    BalasHapus
  19. Nice sharing mba, aku kebetulan belum punya anak. Rumusnya bisa jadi acuan aku buat nanti punya anak.

    BalasHapus
  20. Webnya gak bisa dibuka, kaka...
    Aku sekarang selalu sedia timbangan badan sama ukuran tinggi badan di rumah.
    Tujuannya : biar anak-anak semangat menghabiskan makanan yang aku hidangkan.
    Seringkali banyak alasan. Dari mulai kenyang, sampai ngantuk.

    Dududuu~

    BalasHapus
  21. Sebagai orang tua, perkembangan tumbuh kembang anak memang harus selalu jadi perhatian utama ya..
    Karena dengan tumbuh kembang yang baik, mereka anak menjadi anak yang sehat dan pintar.

    BalasHapus
  22. aduh aku langsung hitung berat badan si sulung dan kurang huhuuhu jadi PR nih buat aku mba padahal aku ((merasa)) udah cukup kasih asupan yang oke :(

    BalasHapus
  23. wah kalau berat badan anak dan umur gak sesuai berarti ada yang gak beres dengan gizinya yah. Btw makasih infonya kak, nambah lagi ilmu parentingku heheh

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir ke personal blog saya, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya.