lifestyle | travel | foodie | personal life

2/14/2019

Pencegahan Demam Berdarah Mulai Dari Rumah


Akuchichie

Kalau ngomongin Demam Berdarah Dengue (DBD) saya jadi mengingat ke tahun 2014, untuk pertama kali dan tidak ingin lagi terkena DBD. Awal Maret tahun 2014 selama kurang lebih saya demam, dihari pertama dan kedua demam masih bisa teratasi dengan obat penurun panas. Ternyata dihari ketiga panasnya manteng gak mau turun dong, badan juga rasanya remuk banget.

Ayah saya saat itu panik karena dari pagi saya panas tapi dalam tubuh saya merasa kedinginan, panas di 39 akhirnya nyerah dan menuju rumah sakit. Saya memilih dekat rumah saja karena mau tes darah, kurang lebih satu jam hasil tes pun datang. Dokter IGD siang itu memberitahu bahwa saya positif DBD dan harus segera dirawat.


Sialnya saat itu kamar rumah sakit sedang penuh semua, tidak tersisah satu pun. Dokter pun bilang dirumah sakit ini banyak pasien dengan diagnosa DBD, minta tolong ke pihak rumah sakit untuk mencarikan alternatif rumah sakit seputaran Bekasi. Beberapa rumah sakit saat itu sedang penuh, tidak ada kamar pun, dan saya tidak bisa rawat jalan karena harus dalam pantauan dokter.

Akhirnya saya menuju rumah sakit di Jakarta Selatan agar memudahkan mobilitas suami kala itu. Ok setelah pencarian beberapa rumah sakit, akhirnya saya mendapatkan kamar di rumah sakit Jakarta Selatan. Saya turun di lobby dan berjalan menuju IGD rumah sakit tersebut, tak perlu menunggu lama saya langsung diperiksa. Ternyata panas saya naik lagi tapi kali ini dengan suhu 41,7 dan suster jaga pun kaget langsung mengambil tindakan untuk segera memberikan saya obat penurun panas.

Lagi-lagi permasalahan ada dikamar yang penuh dan sedang menunggu salah satu pasien yang akan check out. Jam 18.00 saya baru bisa masuk kamar setelah menunggu kurang lebih tiga jam waktu itu. Sampai didalam kamar saat itu saya mikir "se-hype itukah DBD saat ini?". Karena suster yang membawa saya ke kamar sambil bilang "pasien dilantai ini semuanya adalah pasien DBD".

Lalu dihari keempat dimana saat itu suami saya selalu menemani saya dirumah sakit, dia pun demam dan saya minta tolong sama suster untuk bawa segera ke IGD. Dan tak berapa lama saya ditelpon dari ruang IGD bahwa suami saya positif DBD. Ya Allah... apa iya DBD itu menular? Pikir saya saat itu yang bengong habis terima telpon.

Dari kejadian ini saya banyak belajar dan kapok gak mau lagi jadi pasien DBD, gak enak banget. Badan lemes, sendi-sendi juga sakit, belum lagi harus berjuang menaikan thrombosit, mau makan aja lidah berasa gak enak. Pokoknya kapok deh. 

Meet Up Healthies Bersama Kementerian Kesehatan

dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid Dir P2PTVZ dan dr. Gia Pratama

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terus bertambah. Secara nasional jumlah kasus hingga tanggal 3 Februari 2019 adalah sebanyak 16.692 kasus dengan 169 orang meninggal dunia. Kasus terbanyak ada di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT dan Kupang.

Apalagi musim hujan seperti sekarang ini, telur nyamuk akan menetas sangat banyak sekali. Kebayang gak sih setiap dua atau tiga hari sekali nyamuk Demam Berdarah bertelur sebanyak 30-150 telur dan bisa bertahan tanpa air selama enam bulan.

Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh gigitan nyamuk. Dalam pemaparannya dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid Dir P2PTVZ mengungkapkan bahwa:
  • Serotype D1, D2, D3 dan D4
  • Nyamuk Ae.aegypti dan Ae.alpbopictus tersebar diseluruh pelosok Indonesia
  • Berwarna hitam dan belang-belang (loreng) putih pada seluruh tubuhnya
  • Berkembang biak ditempat penampungan air dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang
  • Berkembang biak diselokan atau got atau kolam air yang langsung berhubungan dengan tanah
  • Biasanya mengigit (menghisap darah) pada pagi hari hingga sore hari
  • Mampu terbang sejauh 100 meter
  • Nyamuk Aedes Aegypti yang sudah mengandung virus dengue, seumut hidupnya dapat menularkan kepada orang lain
  • Dalam darah manusia, virus dengue akan mati dengan sendirinya dalam waktu kurang dari seminggu

Berikut adalah hal-hal yang bisa dilakukan untuk pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) dirumah:
  1. Menutup tempat penampungan air 
  2. Menguras tempat penampungan air
  3. Mengubur barang bekas
  4. Tidak menggantung pakaian
  5. Tidur memakai olesan anti nyamuk

Selain kelima hal tersebut bisa dilakukan sendiri dirumah, ada hal yang tak kalah penting dapat dilakukan juga. Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, Jumantik ini kepanjangan dari Juru Pemantau Nyamuk. Jumantik sendiri merupakan anggota masyarakat yang secara sukarela memantau keberadaan jentik nyamuk Aedes Aegypti di lingkungannya. Mereka memiliki tanggung jawab untuk mendorong masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin.

Untuk yang suka menanam dirumah bisa menambahkan koleksi tanamannya dengan beberapa jenis tanaman sebagai berikut:
  1. Bunga Tahi Kotok
  2. Tanaman Zodia
  3. Bunga Krisan
  4. Bunga Tembelekan
  5. Bunga Kenanga
  6. Bunga Lavender
  7. Tanaman Serai
  8. Tanaman Serai Wangi
  9. Tanaman Kayu Putih
  10. Tanaman Kemangi

Sharing Dengan Ibu Nina F. Moeloek - Menteri Kesehatan Republik Indonesia 
Ibu Nila F. Moeloek, Ibu Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Tak hanya dengan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid Dir P2PTVZ pada hari itu Healthies juga berkesempatan tanya jawab dengan ibu Nila F. Moeloek, Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Ibu Nila juga mengajak kita untuk terus menjaga kebersihan dirumah.

Selain dirumah, saat kita keluar rumah pun bisa jadi nyamuk yang sudah terdapat virus demam berdarah tersebut bisa mengigit  kita dengan leluasa. Saran ibu Nila jika keluar rumah bisa dibantu dengan menggunakan minyak olesan anti nyamuk. 

Larvitrap
Foto by Google
Larvitrap ini berfungsi untuk tempat nyamuk bertelur, namun saat jentik berkembang menjadi larva dan nyamuk akan mati karena tidak bisa keluar. Larvitrap merupakan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang mudah direplikasi dan digunakan oleh masyarakat. Larvitrap juga dapat digunakan sebagai alat surveilans (pemantauan) vektor, dan sebagai alat pengendalian vektor.

Kebetulan diperumah saya tinggal para warga sudah diwajibkan untuk membuat Larvitrap sendiri dirumah. Bahkan bapak Rukun Warga (RW) memberikan tutorial cara pembuatan via what's app kepada bapak Rukun Tetangga (RT) untuk diteruskan kepada warganya. 

"Ayo ajak warga bikin dan pasang Larvitrap sendiri dirumah agar jadi keluarga yang bebas dari demam berdarah"

Itu adalah kalimat pembuka di what's app yang diteruskan oleh bapak RT ke mamah saya. Awalnya emang males banget dan belum paham soal Larvitrap tapi setelah Meet Up Healthies ini saya tergerak untuk membuatnya dirumah. 


Berikut ini cara MUDAH dan MURAH yang bisa dicoba. COcok untuk diterapkan di perumahan, sekolah, rumah sakit dan lainnya. Apalagi kalau hal ini bisa dikenalkan kepada siswa disekolah untuk dibuat dan dicoba sebagai prakarya namun dapat membantu mencegah penyebaran nyamuk demam berdarah.

Yang dibutuhkan:
  • 200 ml air
  • 50 gram gula merah
  • 1 gram ragi (bisa beli di toko makanan kesehatan, warung atau pasar)
  • Botol plasti ukuran 1,5 liter (bisa menggunaka botol air mineral atau soft drink)

Langkah-langkah pembuatannya:
  • Potong botol plastik di tengah, simpan bagian atas/mulut botol
  • Campur gula merah dengan air panas. Biarkan hingga dingin dan kemudian tuangkan diseparuh bagian potongan bawah botol
  • Tambahkan ragi, tidak perlu diaduk. Ini akan menghasilkan karbon-dioksida
  • Pasang / masukkan potongan botol bagian atas dengan posisi terbalik seperti corong
  • Bungkus botol dengan sesuatu yang hitam (bisa dengan kain atau kantong plastik)

Dalam dua minggu, kita dapat melihat jumlah nyamuk yang mati dalam botol. Selain membersihkan habitat mereka, tempat berkembang biak nyamuk dapat menggunakan metode sangat berguna yang bisa diterapkan di sekolah, kantor, rumah tinggal, rumah sakit dan lainnya.

Foto by Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI

Foto by Satto Raji
Keseruan Meet Up Healthies bersama teman-teman blogger dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Semoga sharing tentang Demam Berdarah Dengue (DBD) dari saya bermanfaat, happy reading!






51 komentar on "Pencegahan Demam Berdarah Mulai Dari Rumah"
  1. Kalo saya seringkali menyingkirkan baju hitam yang sudah dipakai, karena nyamuk lebih senang bersarang di baju hitam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, menggantung baju juga menyebabkan datangnya nyamuk

      Hapus
  2. Anakku pernah kena DB dan opname di RS. Duh, ngeri banget, jangan sampai terkena lagi deh. Harus waspada dengan nyamuk DB ini ya apalagi musim hujan seperti ini, banyak genangan air juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, yang dewasa aja merasakan sakit sekali gimana anak-anak ya?

      Hapus
  3. Eh ini membuat larvitrap kemarin sempet banyak di share digrup2 wa tapi kurang jelas sumbernya jadi banyak diabaikan. Baca artikel ini jadi tahu dan kayaknya harus segera bikin deh ya.. ngeri emang ya kalau udah ada disekitar kita yg kena DBD itu langsung parno aja bawaannya takut kena juga ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aku pun sempat baca doang dan untuk buatnya malas, tapi kemarin pas acara ini langsung whats app suami dan minta dia bikin dirumah. HAhahaaa

      Hapus
  4. bener banget mbak DBD itu gak enak. Anak aku pernah kena juga tahun 2017 lalu. Stress aku mana panasnya gak turun - turun. Baca ini jadi pengen punya lavitrap juga. Ada juga gak seh mbak? *males buat* hehehehe

    BalasHapus
  5. Asik bisa bikin perangkap nyamuk nih di rumah dari Larvitrap. Bikinnya mudah kayaknya.

    BalasHapus
  6. Perangkap nyamuknya memang mantap. Saya sudah coba sejak lama dan memang manjur. Maklum di kampung, masih banyak tanah kosong dan kebun. Nyamuk yang belang itu wuih tidak terkira jumlahnya. Semoga upaya ini bisa mengurangi wabah demam berdarah ya.

    BalasHapus
  7. Aku dua kali mak ngalamin kena DBD. Gak enak banget, kayaknya itu sakit yang paling gak enak deh yg pernah aku alamin. Sampe nangis2. Aku bookmark cara bikin lavitrap nya ya. Makasih :*

    BalasHapus
  8. Ya Alloh mba bisa barengan mba sama suami, duh nyesek aku bacanya :( kebayang di posisi begitu aku mah bisa drop pisan hehehe

    Dan di Cimahi lagi darurat DBD mba makanya pas anakku juga panas ga turun2 langsung bawa ke dokter ngeri soalnya :(

    semoga kita selalu disehatkanNya aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku baru tahu tentang larvitrap ini mba :) nyamuk emang hewan paling membahayakan yes

      Hapus
  9. jadi inget waktu dua anaku masuk rs. palagi si kk yg mayan parah, sedih bngt aku pas nungguinnya.
    mau bikin perangkap nyamuknya, makasi sharingnya mak :)

    BalasHapus
  10. Harus dicoba juga nih bikin Larvitrap di rumah. Aku udah bantu dg menanam Kemangi sama Serai. Semoga jauh2 dari sinyamuk ini

    BalasHapus
  11. Ya Allah jauh2in dari penyakit DBD, apalagi musim hujan begini DBD "hype" gitu intinya kita selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar sih Insya Allah dijauhkan dari DBD, Keep Healthy ya mom��

    BalasHapus
  12. Saya juga lagi deg2an sama wabah DBD ini karena kebetulan ponakan habis kena juga.. pernah baca juga cara mengontrol perkembangbiakan nyamuk dirumah, cuma pakai air dalam kaleng cat yang tujuannya mancing para nyamuk bertelur disitu.. jentik2 nyamuknya dipanen tiap 5 hari terus dijemur di panas matahari supaya kering dan mati..lebih simple dari larvitrap, tapi kekurangannya nyamuk dewasanya tetep eksis sih..

    BalasHapus
  13. paling ngeri deh kalo dibilang positif DBD sama dokter. duh gak enak banget sumpah. badan greges, mual, pusing, demam, gak enak deh pokoknya.

    BalasHapus
  14. Saya sekali nanganin adik kena DBD, jauh dari ortu, kali pertama. Dokter nyuruh rawat inap di RS, tapi gak ada gambaran rupiah. Akhirnya terpaksa saya tangani sendiri. Saya kasih aja berbagai jus jusan yang dipercaya bisa ngobatin DBD. Apa kata oranglah pokoknya. Alhamdulillah atas ijin Allah, sembuh.

    BalasHapus
  15. Lebih baik kita mencegah drpd mengobati. Apalagi Dbd ini skarang gejalanya susah diamati, beda sama waktu dulu

    BalasHapus
  16. Aku baru tahu tentang Larvitrap ini, Mbak. Mudah ternyata bikinnya. Waktu ini di perumahanku wabah juga. Anankku sempat rawat inap meski ternyata bukan positif DBD.Memang perlu kepedulian semua orang untuk pencegahannya. Karena kita sudah pelihara lingkungan rumah tapi kalau tetangga kita enggak ya percuma. Karena penularannya lewat gigitan nyamuk kan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan aku saldok dengan Ibu Menkes yang duduk di panggung dengan posisi seperti ini. Sungguh membumi:)

      Hapus
  17. ooo kemangi bisa cegak munculnya nyamuk ya? baru tahu loh. perlu nih saya minta ke tetangga belakang rumah. hihi. kalau gak baca tulisan ini mana saya tahu. trim,s yaaaa

    BalasHapus
  18. Oh bisa ya bikin Larvitrap sendiri, lumayan sih bisa untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk DBD ya. Aku dulu malah sedia serai dan ditaruh di bawah dipan, katanya bisa ngusir nyamuk. Tapi harus rajin menggantinya tiap dua hari sekali. Nah ini yang kurang telaten aku lakukan

    BalasHapus
  19. Iya nih mba. Belakangan emang lagi rame banget kena DBD. Kadang tuh ya di rumah sudah segala cara spy nyamuk ga gigit. Tp pas anak sekolah khawatir lg. Huhu. Kayaknya hrs nyoba bikin larvitrap jg nih. Bahannya mudah didapat ya. Thanks sharingnya mba.

    BalasHapus
  20. penyakit ini serem bgt, klo telat penanganannya pas kena bisa bahaya, karena itu kita harus rajin rajin bebersih 3M +

    BalasHapus
  21. Kalo komunitas zero waste ponit 3 mengubur udah diganti mak dengan mereduce sampah yang masih bisa didaur ulang, karena kalo mengubur kasian juga ekosistem bawah tanah. Tapi apapun itu dengan info dari mbak ini semoga kita semakin memperhatikan lingkungan yah terutama rumah

    BalasHapus
  22. Iy nih mesti jaga2 DBD serem bngt ya ,, dah mau buat larvitrap nih dirumh until jaga2

    BalasHapus
  23. Saya juga pernah dirawat gara-gara DBD. Kapok banget udahannya. Sejak itu, saya semakin waspada dengan DBD. Gak ingin keluarga juga mengalami hal sama. Apalagi 2 minggu lalu, salah seorang tetangga depan rumah, wafat karena DBD. Makin waspada deh saya.

    Info lavitrapnya boleh juga, Mbak. Terima kasih banyak, ya. Nanti saya kasih tau suami supaya bikin.

    BalasHapus
  24. mencegah DBD dilingkungan sendiri aq tahunya dengan foging, ternyata ada juga yah pembuatan larvitrap, semoga pemerintah bisa lebih luas lagi mensosialisasikan ini yah mbak jadi masyarakat umum pun bisa belajar untuk membuat larvitrap sederhana

    BalasHapus
  25. Di lingkungan saya juga biasanya dengan fogging aja.
    Baru tahu nih tentang Larvitrap.
    Makasih sharing infonya ya, mba..

    BalasHapus
  26. Duh ini peer banget. Kolam renang di rumah keisi air hujan terus. Kalo malem kamar banyak nyamuk :(
    Aku baru tahu tentang Larvitrap, bisa dicoba nih bikin

    BalasHapus
  27. Temanku waktu DBD nggak tega pas jenguknya. Cuma bisa tengok dari jauh aja, dan antisipasi dari DBD di musim seperti ini wajib banget

    BalasHapus
  28. Nah ini nih. Lagi musim ujan gini kita harus waspada DBD. Mulai banyak nyamuk juga di rumah, harus beberes masal biar terhindar dari DBD. Makasih mbak infonya, nanti aku coba buat Lavitrap sendiri ah.

    BalasHapus
  29. Musim pancaroba lagi banyak nyamun harus hati2 sama DBD ya, udah mulai banyak yg terserang jadi bikin khawatir. Langsung beres2 biar gak ada sarang nyamun lagi deh. Aku taunya tanaman lavender sama serai, ternyata banyak juga tanaman lain yang bisa menghalau nyamuk ya.
    Wah caranya mudah ya mbak, aku mau praktekkan ah biar terbebas dari nyamun.

    BalasHapus
  30. Lagi musimnya nih ya. Semoga jangan sampai ada yang kena DBD. Pencegahan larvitrip tampak lebih aman daripada difogging.

    BalasHapus
  31. Hati hati dengan DBD karena musim hujan banyak yg terjangkit, oleh sebab itu bersihkan penampungan air jgn sampe tergenang air, waspadalah

    BalasHapus
  32. DBD memang bikin worry banget ya kak. Apalagi musim hujan gini. Untungnya ditempat ku sering banget dilakukan kerjabakti bareng buat bersih selokan termasuk rutin fogging kak.alhamdulilah

    BalasHapus
  33. Namanya unik yaa...Larvitrap.
    Dan manfaatnya luar biasa.

    Semoga dijauhkan dari sakit...sehat selalu.
    Aamiin~

    BalasHapus
  34. DBD ini sungguh bikin ketar-ketir yaaa...makin banyak aja yang terkena serangan DBD. Jadi sedih banget kalau baca beritanya di berbagai media.

    Nah, yg pembuatan lervitrap ini bisa banget dicoba. Kapan2 klo pas arisan PKK mau kuusulin ah ke anggota yg lain utk bikin seperti ini. Ampuh dan tidak membahayakan karena tidak pake cairan kimia seperti obat nyamuk pada umumnya.

    BalasHapus
  35. dulu mama suka sekali menanam serai di sektar pekarangan rumah, alhasil nyamuk membandel gak ad di rumah, tapi waktu itu blmtau klu tanaman serai ini bisa ngusir nyamuk haha

    BalasHapus
  36. Semua yg besar dimulai dari yg kecil, termasuk pemberantasan DBD bisa dimulai dr rumah

    BalasHapus
  37. Larvitrap bisa bunuh jentik nyamuk ya. Hmm perlu nih info ke Pakdhe. Soalnya ponakanku, anaknya, lagi dirawat karena DBD

    BalasHapus
  38. Aku, Ibuku, dan adikku pernah tuh rombongan dirawat di RS karena DBD. Jangan sanpe lagi ya Allah....
    Mba, itu dibungkus plastik hitamnya seluruh botol ya? maksudnya, benar-benar ketutup semua botolnya?

    BalasHapus
  39. Cukup mudah ternyata cara pembuatan larvitrap ini. Dan saya kok nggak ada anjuran pembuatan larvitrap di lingkungan saya. Bahkan pengasapan jg ga ada. Huhu

    BalasHapus
  40. Bacaan menarik ttg larvitrap. Kalau berhasil disosialisasi pasti bisa mengurangi angka DBD ya mba.

    BalasHapus
  41. Akhir-akhir ini di sekitar lingkungan saya beberapa ada yg kena DB, bahkan ada familinya teman kami sampai meninggal dunia. Kata dokter teman saya juga mengatakan kalau wabah DB lagi banyak-banyaknya. Makanya kita harus hati-hati dan waspada.

    BalasHapus
  42. Serem memang ya, mbak DBD ini. Saya kalau anak kena demam tinggi takut banget kalau dia kena DBD

    BalasHapus
  43. Oh Dear, pengalaman terkena DBD pasti jadi pembelajaran banged ya Ka Chichie, jadi betul banged dech harus menjaga kebersihan yang dimulai dari diri kita sendiri dan lingkungan sekitar kita yaa. Semoga kita sekeluarga sehat2 terus ya Kaa.

    Aamiin

    BalasHapus
  44. Lagi banyak banget nih yang kena DBD di Kertosono termasuk ponakanku.
    Eh kemarin dihubungi om di Jakarta, katanya anaknya juga kena.

    BalasHapus
  45. pencegahan DBD bisa dimulai dari lingkungan terdekat kita dengan cara yg sangat sederhana seperti Larvitrap ini.. salut sekali dengan perhatian Kemenkes untuk memberi edukasi kepada masyarakat terkait bahayanya penyebaran DBD di Indonesia..

    BalasHapus
  46. Anakku pernah mba sekali kena DbD. Duh nggak lagi lagi deh ya Allah :(. Smoga anak a ak kita sehat terus ya mbaa. Aamiin

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir ke personal blog saya, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya.