lifestyle | travel | foodie | personal life

4/21/2019

Pentingnya Imunisasi Lengkap Untuk si Kecil dan Halal Sesuai dengan Fatwa MUI



Berbicara soal imunisasi ini jadi flashback waktu anakku masih bayi, dimana dulu sejak umur nol bulan dia juga sudah mendapatkan imunisasi dari dokter anaknya. Kebetulan saya menganut prinsip “jalani apa yang dianjurkan oleh dokter anak” karena saya percaya apa yang dilakukan terhadap anak saya memang sudah sesuai dengan ilmu kedokteran.

Belum lama ini imunisasi juga menjadi perbincangan para ibu-ibu, jangan vaksin A nanti anaknya begini dan begitu. Alhamdulillah saya bukan termasuk ibu yang gampang menelan informasi yang belum jelas yang hanya sebatas “katanya”. Serem juga sih kalau masih percaya informasi yang belum jelas.

Sedikit bercerita waktu anakku mau vaksin cacar kalau tidak salah, ini agak susah karena dirumah sakit biasa anakku melakukan imunisasi vaksin tersebut tidak banyak tersedia dan dalam antrian. Lalu saya mencoba mendaftarkan dibeberapa rumah sakit dan hasilnya pun sama, masuk dalam antrian. Yang mana nanti kalau tersedia akan dihubungi oleh rumah sakit tersebut.

Akhirnya iseng nyoba telp rumah sakit yang dekat rumah mama, ini pun bukan rumah sakit besar. Ternyata disana tersedia vaksinnya, lalu sebelum saya kesana terlebih dahulu mengkonsultasikan dengan dokter anakku. Saat itu dokter anakku memberikan izin untuk melakukan vaksin dirumah sakit berbeda.

Saya pun sempat bertanya dengan petugas rumah sakit “kenapa disini masih banyak tersedia vaksinnya?” Petugas rumah sakitpun menjawab “karena ibu-ibu disini tidak ada yang mau anaknya diberikan vaksin ini bu, jadi persediaan kita selalu ada”. Saat itu saya gak kepikiran macam-macam karena cuma menanggapi “oh gitu sus, soalnya ditempat anakku selalu kehabisan”.

Tersadar waktu pembahasan tentang vaksin merebak, langsung keingatan deh dan sempat terbersit “apa iya ini masyarakat dekat rumah mamahku anti sama vaksin?” sayang banget kalau iya, padahal memberikan vaksin ini penting sekali untuk anak-anak kita loh.


Pentingnya Pemberian Vaksin Secara Lengkap
Prof. dr. Cissy Kartasasmita, Sp.A
Apa sih yang dimaksud dengan imunisasi? Imunisasi merupakan upaya pencegahan yang paling cost efective, tidak ada tandingannya kecuali pengadaan air bersih. Kalau menurut Prof. dr. Cissy Kartasasmita, Sp.A- Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi "pemberian imunisasi pada anak itu sangat penting sekali dan tentunya pemberian ulangan sampai usia 18 bulan. Pemberian vaksin ini harus lengkap".

Yang harus diketahui ternyata mulai tahun 1977 kegiatan imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi (PPI) dalam rangka pencegahan penularan terhadap beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) yaitu tuberkulosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B. 

Beberapa penyakit yang saat ini menjadi perhatian dunia dan merupakan komitmen global yang wajib diikuti oleh semua negara adalah Eradikasi Polio (ERAPO), eliminasi campak dan rubela dan eliminasi tetanus maternal dan neonatal (ETMN).

Tabel Imunisasi, sumber IDAI
Adapun penjelasan dari tabel imunisasi diatas sebagai berikut:
  • Vaksi Hepatitis B (HB), vaksin HB pertama (monovalent) paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir dan didahului dengan pemberian suntikan vitamin K1 minimal 30 menit sebelumnya. Jadwal pemberian vaksin HB monovalen adalah usia 0,1 dan 6 bulan. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif, diberikan vaksin HB dan imunoglobin hepatitis B (HBIg) pada ekstrimitas yang berbeda. Apabila diberikan HB kombinasi dengan DTPw, maka jadwal pemberian pada usia 2,3 dan 4 bulan. Apabila vaksin HB kombinasi dengan DTPa, maka jadwal pemberian pada usia 2,4 dan 6 bulan.
  • Vaksin Polio, apabila lahir di rumah segera berikan OPV-0, apabila di sarana kesehatan, OPV-0 diberikan saat bayi dipulangkan. Selanjutnya, untuk polio-1. polio-2, polio-3 dan polio booster diberikan OPV atau IPV. Paling sedikit harus mendapat satu dosis vaksin IPV bersamaan dengan pemberian OPV-3
  • Vaksin BCG, pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum usia 3 bulan, optimal usia 2 bulan. Apabila diberikan pada usia 3 bulan atau lebih, perlu dilakukan uji tuberculin terlebih dahulu.
  • Vaksin DPT, Vaksin DPT pertama diberikan paling cepat pada usia 6 minggu. Dapat diberikan vaksin DTPw atau DPTa atau kombinasi dengan vaksin lain. Apabila diberikan b=vaksin DPTa maka interval mengikuti rekomendasi vaksin tersebut yaitu usia 2,4 dan 6 bulan. Untuk usia lebih dari 7 bulan diberikan vaksi Td atau Tdap. Untuk DPT 6 dapat diberikan Td/Tdap pada usia 10-12 tahun dan booster Td diberikan setiap 10 tahun. 
  • Vaksin Pneumokokus (PCV), apabila diberikan pada usia 7-12 bulan, PCV diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan, dan pada usia lebih dari 1 tahun diberikan 1 kali. Keduanya perlu booster pada usia lebih dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak usia diatas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali.
  • Vaksin Rotavirus, vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama diberikan usia 6 - 14 minggu (dosis pertama tisak diberikan pada usia kurang dari 15 minggu). dosis kedua diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Batasa akhir pemberian pada usia 24 minggu. Vaksin rotavirus pentavalen diberikan 3 kali, dosis pertama diberikan usia 6-14 minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia kurang dari 15 minggu), dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4-10 minggu. Batas akhir pemberian pada usia 32 minggu.
  • Vaksin Influenza, diberikan pada usia lebih dari 6 bulan, diulang setiap tahun. Untuk imunisasi pertama kali (primary immunization) pada anak usia kurang dari 9 tahun diberi dua kali dengan interval minimal 4 minggu. Untuk anak 6 - 36 bulan, dosis 0,25 ml. Untuk anak usia 36 bulan atau lebih, dosis 0,5 ml.
  • Vaksin Campak, vaksin campak kedua (18 bulan) tidak perlu diberikan apabila sudah mendapatkan MMR.
  • Vaksin  MMR/MR, apabila sudah mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan, maka vaksin MMR/MR diberikan pada usia 15 bulan (minimal interval 6 bulan). Apabila pada usia 12 bulan belum mendapatkan vaksin campak, maka dapat diberikan vaksin MMR/MR.
  • Vaksin Varisela, diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada usia sebelum masuk sekolah dasar. Apabila diberikan pada usia lebih dari 13 tahun, perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu.
  • Vaksin Human Papillona Virus (HPV), diberikan mulai usia 10 tahun. Vaksin HPV bivalen diberikan tiga kali dengan jadwal 0, 1 dan 6 bulan, vaksin HPV tetravalent dengan jadwal 0, 2 dan 6 bulan. Apabila diberikan pada remaja usia 10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan. 
  • Vaksin Japanese Encephalitis (JE), diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau turis akan bepergian ke daerah endemis tersebut. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun berikutnya.
  • Vaksin Dengue, diberikan pada usia 9-16 tahun dengan jadwal 0, 6 dan 12 bulan.

Yang harus diingat adalah:
Immunization is the future health investment


Imunisasi sangat diperlukan karena:
  1. Menghasilkan kekebalan (imunitas) seperti infeksi alamiah akan menimbulkan kekebalan, imunisasi meniru kejadian infeksi alami dan tubuh membentuk kekebalan melalui pertahanan non spesifik dan spesifik.
  2. Mencegah penyakit yang menyebabkan kematian dan kecacatan.
  3. Memenuhi kewajiban hak anak.

Dampak jika anak tidak diberikan imunisasi:
  1. Anak tidak mempunyai kekebalan terhadap mikroorganisme ganas (patogen).
  2. Anak dapat meninggal atau cacat sebagai akibat menderita penyakti infeksi berat.
  3. Anak akan menularkan penyakit ke anak atau dewasa lainnya.
  4. Penyakit tetap berada di lingkungan masyarakat.

Program dan Pekan Imunisasi Dunia Tahun 2019
drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid
Program imunisasi di Indonesia ini kalau menurut saya sendiri memang wajib sekali karena seperti yang dikemukan sebelumnya oleh dr. Cissy Kartasasmita mengenai betapa pentingnya melakukan imunisasi dapat menekan penyakit yang timbuh.

Kebetulan saya sendiri melakukan imunisasi secara lengkap kepada anak saya, sejak dia berusia dari nol bulan. Waktu awal dikasih buku journal mengenai tumbuh kembang anak, saya masih agak bingung-bingung nih sama apa sih manfaat dari semua imunisasi yang saya berikan ke anak. Jadi setiap melakukan imunisasi saya selalu bertanya dan konsultasi terlebih dahulu mengenai vaksin yang diberikan. 

Menurut drg. R, Vensya Sitohang, M.Epid - Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dengan melakukan imunisasi dapat mencegah penyakit. Pencegahan umum, tidak spesifik (promotif, preventif):
  • Memberikan ASI, makanan pendamping ASI dan perbaikan gizi
  • Suplemen
  • Kebersihan perorangan, sumber air dan lingkungan
  • Belum mampu melindungi, terutama terhadap kuman atau bakteri atau virus yang berbahaya

Pencegahan secara spesifik:
  • Efisien, efektif terhadap penyakit berbahaya
  • Dalam 2 - 4 minggu terbentuk kekebalan terhadap penyakit berbahaya
  • Semua negara dengan gizi baik, lingkungan bersih, tetap melakukan imunisasi sejak tahun 1950an sampai sekarang.


Tujuan program imunisasi untuk menurunkan kesakitan dan kematian akibat penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Keberhasilan imunisasi, cacar berhasil dibasmi diseluruh dunia, Indonesia mendapat sertifikat bebas polio tahun 2014 dan Indonesia mengeliminasi tetanus pada ibu hamil dan bayi baru lahir di tahun 2016.

Pelayanan imunisai dapat dilakukan di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan seperti:
  • Posyandu
  • Puskesmas
  • Puskesmas pembantu
  • Rumah sakit pemerintah
  • Rumah sakit swasta, klinik dokter praktik swasta, klinik bidan praktik mandiri
  • Fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan lainnya
  • Sekolah-sekolah pada pelaksanaan bulan imunisasi anak sekolah (BIAS).

Pekan Imunisasi Dunia (PID) diprakarsai pada Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly) pada bulan Mei 2012. Waktu pelaksanaannya yaitu minggu keempat bulan April setiap tahunnya. Telah dilaksanakan di lebih dari 180 negara, termasuk Indonesia.

Faktanya 19,9juta anak tidak mendapatkan imunisasi secara lengkap pada tahun 2018 di 10 negara termasuk Indonesia didalamnya.

Pada tahun 2019 tema Pekan Imunisasi Dunia (PID):

Global
"Protected Together: Vaccines Work!

Nasional
"Imunisasi Lenkap, Indonesia Sehat"

PID nasional tahun 2019 akan dilaksanakan pada tanggal 23 - 30 April 2019 dan akan melibatkan seluruh masyarakat untuk mendukung kesuksesan Pekan Imunisasi Dunia 2019. 


Fatwa MUI Tentang Imunisasi
Dr. HM. Asrorum Ni'am Sholeh MA
Yang masih jadi perdebatan sampai hari ini sebenarnya tentang halal atau tidaknya beberapa vaksin yang beredar, karena seperti yang kita ketahui ada cerita mengenai vaksin mengandung babi. Tentu ini membuat resah para ibu terutama muslim. Vaksin memang sangat diperlukan tapi kita juga harus tau apakah itu halal?

Dr. HM. Asrorum Ni'am Sholeh MA - Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat memberikan pemaparan mengenai fatwa MUI mengenai vaksi. Sudah tentu sebagai muslim pengobatan harus dilakukan dengan barang yang halal. Penggunaan barang halal disini tidak terbatas pada dzatnya, melainkan juga dalam melakukan proses produksinya.


Fatwa dan Keputusan MUI tentang Imunisasi
Banyak yang harus diketahui terutama untuk para ibu dan calon ibu, menurut MUI ada beberapa fatwa yang dikeluarkan oleh MUI tentang imunisasi ini. Diantaranya sebagai berikut:

Fatwa tentang penggunaan vaksin Polio Khusus (IPV) pada tahun 2002:

  1. Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari  atau mengandung benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram.
  2. Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat ini dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.

Penggunaan Vaksin Polio Oral (OPV) Tahun 2005
  1. Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari atau mengandung benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram.
  2. Pemberian vaksin OPV kepada seluruh balita, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada OPV jenis lain yang produksinya menggunakan media dan proses yang sesuai dengan syariat Islam.

Fatwa Tentang Obat dan Pengobatan Nomor 30 tahun 2013
  1. Islam mensyariatkan pengobatan karena ia bagian dari perlindungan dan perawatan kesehatan yang merupakan bagian dari menjaga Al-Dharuriyat Al-Khams.
  2. Dalam ikhtiar mencari kesembuhan wajib menggunakan metode pengobatan yang tidak melanggar syariat.
  3. Obat yang digunakan untuk kepentingan pengobatan wajib menggunakan bahan yang suci dan halal.
  4. Penggunaan bahan najis atau haram dalam obat-obatan hukumnya haram.
  5. Penggunaan obat yang berbahan najis atau haram untuk pengobatan hukumnya haram kecuali memenuhi syarat. 
  6. Penggunaan obat yang berbahan najis atau haram untuk pengobatan luar hukumnya boleh dengan syarat dilakukan pensucian.

Vaksin halal merupakan kewajiban dan tanggung jawab kolektif pemerintah dan ilmuan
  • Penyedia vaksin halal adalah salah satu langkah strategis percepatan program imunisasi
  • Penggunaan konsumsi halal, termasuk di dalamnya obat adalah tuntutan agama yang merupakan hak warga negara dan dilindungi oleh konstitusi
  • Ketiadaan vaksin halal menjadi dosa besar para ilmuan
  • Tanggung jawab kolektif untuk mewujudkan vaksin halal
  • Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi masyarakat Indonesia untuk melakukan penelitian yang serius agar menemukan vaksin meningitis yang halal.
  • Para ilmuan dan ulama harus melakukan ijtihad dan jihad keilmuan untuk menemukannya
  • Untuk memenuhi kebutuhan umat Islam, maka wajib hukumnya bagi para ilmuan untuk melakukan penelitian dan penemuan vaksin halal

Produsen vaksin wajib mensertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundangan - undangan. Sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016.


49 komentar on "Pentingnya Imunisasi Lengkap Untuk si Kecil dan Halal Sesuai dengan Fatwa MUI"
  1. Ah, kujadi inget anakku juga, sedari lahir diberikan imunisasi lengkap sebelum 2 tahunan, udah gede pun masih sesuai dengan aturan2 yang diberikan. Alhamdulillah sampe saat ini sehat2 selalu dan semoga anak2 kita selalu diberikan kesehatan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ya teh, karena memang ternyata anak-anak itu butuh vaksin

      Hapus
  2. Aku juga menganut prinsip sama kayak mbak Chiechie yaitu ikutin aja saran dokter anak. Sampai sekarang alhamdulillah masih terus imuninasi sesuai jadwal dan anakku sehat2 selalu

    BalasHapus
  3. yang jadi permasalahan bukan di "babi"nya juga deh kayaknya yang jadi perdebatan di kalangan ummat muslim, tapi lebih pada kekebalan tubuh sendiri.

    sejujurnya saya juga masih ingin mencari tahu tentang yes or no- nya vaksin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin kalau menurut MUI selain ada "babinya" perhatikan kandungannya dan juga yang disarankan pihak rumah sakit terbuka dengan hal ini.

      Hapus
  4. Aaahh, bener niiih. Edukasi tentang imunisasi kudu terus-menerus digalakkan.
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  5. Zril, anak saya, imunisasi dasarnya sudah lengkap. Tinggal yang ulangan dan tambahan. Ada yang masih ragu sih seperti polio yang juga diinjeksikan, masih tanya2 ke dokter spesialis anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin kalau menurut dr Cissy, Polio ini penting mbak tapi balik lagi bisa tanyakan ke dokter anaknya.

      Hapus
  6. Wah banyak juga ya Mbak prosentase anak yang enggak mendapatkan imunisasi secara lengkap di tahun lalu.
    Kalau aku pernah lupa imunisasi anak soalnya pas jadwalnya, dia lagi sakit. Trus ditunda bulan depannya. Nah, bulan depannya ini yang kelupaan. Untung bidannya teliti sama catatannya. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku ralat untuk prosentasenya segitu untuk 10 negara, maaf terjadi kesalahan.

      Hapus
  7. Sosialisasi imunisasi saat ini sudah lebih jelas. Dulu di kampung saya blm ada sosialisasi seperti mendetail begini jadi warga yang awam malah semakin takut. Yang sok tahu malah nakut-nakuti dll. Jadi pada mogok deh bawa anak imunisasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, betul memang yang di kampung ini sosialisasinya tidak seperti perkotaan kalau kataku. Karena aku mendapatkan vaksin yang sulit dicari itu di rumah sakit daerah.

      Hapus
  8. Alhamdulillah semua anak2ku imunisasi secara lengkap.. . sekitar 20tahun yang lalu (anakku yang sulung usia 17 tahun) sepertinya belum heboh tentang haram nya imunisasi CMIIW

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, sekarang ini heboh dan seperti biasa membuat orang jadi tambah takut.

      Hapus
  9. Aku heran kenapa ya ada ibu-ibu yang anti vaksin, padahal gratis juga itu imunisasi wajib ditanggung bpjs. kalau memang anti vaksin ya nggak usah ajak2 lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini terjadi malahan di grup komunitasku ada salah satu ibu yang gak percaya vaksin.

      Hapus
  10. Kalau saya termasuk emak-emak yang manut aja siy, alhamdulillah anak bisa full imunisasinya sampai ke tambahan2nya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal anak itu kalau sudah mendapatkan imunisasi secara lengkap juga termasuk mencegah penyakit berbahaya

      Hapus
  11. Kedua anak saya sudah komplit mendapatkan imunisasi. Ketika ada booster imunisasi pun saya ikutkan. Alhamdulillah sehat-sehat semua.

    BalasHapus
  12. Aku dukung pemberian imunisasi bagi anak, mba. Mnurutku memang ini hak anak untuk di imunisasi. Dan aku pun bersyukur anakku ya di imunisasi. Alhamdulullah tulisan seperti ini smoga bikin banyak yang melek buat imunisasi ya

    BalasHapus
  13. Iya banget, hari gini mah imunisasi udah jadi keharusan. Di tengah gempuran banyak penyakit, imunisasi adalah antisipasi yang paling ampuh. Dan sebagai muslim, halal adalah pilihan mutlak. Alhamdulillah ya vaksin buat anak-anak udah pada halal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, anak-anakku full imunisasinya. Semoga semakin banyak ya anak Indonesia yang diimunisasi dengan sudah diklarifikasikan ttg halalnya vaksin

      Hapus
  14. keraguan halal ini yang membuat banyak kekhawatiran di kalangan ortu ya, tapi memang beda kalau ada jaminannya sekarang. Plus edukasi dan penyebaran informasinya yang terus-menerus, karena masyarakat sekarang gak bisa cuma disuruh-suruh aja ya.

    BalasHapus
  15. Sepakat mba imunisasi merupakan investasi kesehatan masa datang.
    Ga kebayang klo anak2 kita ga diimunisasi mengingat masalah kesehatan makin random muncuk di sekitar kita

    BalasHapus
  16. Imunisasi itu penting sekali karena aku merasakan manfaatnya. Anak jadi jarang sakit dan niatnya tidak menularkan ke orang lain. Sampe sekarang anakku masih melakukan imunisasi pengulangan kak

    BalasHapus
  17. Saya tim wajib imun. karena penyakit sekarang makin banyak dam macam-mcam, virus-virus juga udah jago bermutasi, ikhtiar memberi proteksi untuk anak wajib dioptimalkan :)

    BalasHapus
  18. Alhamdulillah anakku termasuk yang lumayan lengkap imunisasinya. :) Abisnya jaman sekarang deg-degan sama penyakit yang cepat menyebar huhu

    BalasHapus
  19. pas banget lho ngomongin imunisasi sama tetangga eh dia bilang takut imunisasi karena menyebabkan autisme. Untung aja dengar penjelasan Kemenkes kalau itu hoax.

    BalasHapus
  20. Dulu ketika anak-anak masih kecil, saya berikan mereka imunisasi lengkap.
    Zaman sekarang banyak ibu yang galau tentang kehalalan imunisasi. Untung saja pemerintah cepat tanggap ya, langsung memberikan sosialisasi mengenai pentingnya imunisasi.

    BalasHapus
  21. Alhamdulillah kami termasuk yang tim pro vaksin. Ngeri aja sih sama penyakit jaman now yang sukanya bermutasi jadi bentuk macam-macam. DB aja sekarang jenisnya udah ada banyak kan? itu belum penyakit lainnya. Makanya perlindungan anak prioritas terpenting kami.

    BalasHapus
  22. Sayang ya, masih banyak ternyata yg anti vaksin :( Padahal penting banget utk anak dan generasi selanjutnya. Alhamdulillah anakku semuanya vaksin lengkap, termasuk ulangannya setelah mereka sekolah pun tetap vaksin.

    BalasHapus
  23. Alhamdulillah aku lengkap anak-anak
    Doanya moga imunisasi tambahn juga bisa gratis dari pemerintah 😂
    Btw, penting imunisasi itu mak secara butuh banget buat sekolah

    BalasHapus
  24. Yang aku masih berfikir keras adalah kenapa pemerintah mengharuskan beragam vaksin ini itu ya padahal sejatinya manusia dibekali kekebalan tubuh masing-masing guna menangkal beragam penyakit. Eh ini fikiran aku aja sih gak perlu dioerdebatkan. Aku nggak anti vaksin sih Mak, toh aku juga dulu sewaktu kecil pernah divaksin. Namun makin hari vaksin jadi makin banyak. Pusing ngapalinnya. Padahal zaman dulu cuma ada polio, campak, difteri yang mudah diingat jadi kita nggak kelewat buat vaksin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku waktu dulu buka buku kesehatan anakku sampai bingung awalnya lihat deretan nama vaksin. Hahahahaaaa

      Hapus
  25. ada yang nggak vaksin penyakit berbahaya seperti rubella ini bikin nyebelin, jadi ada ibu hamil yg kena kan kasihan, huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini temenku pernah kena mbak, akhirnya gugur si dedek bayik.

      Hapus
  26. Aku setuju vaksin,,,sangat
    Anakku cacat dan meninggal karena saat hamil ditengarai aku terinfeksi virus oleh okter
    Jadi tolong yang anti vaksin itu berpikir berulang kali
    Karena bukan hanya dia sendiri yang bisa kena penyakit berbahaya, tapi ornag lain pun berpotensi ditularkannya

    BalasHapus
  27. Waah kemarin kaku jg datang ke sharing tentang vaksin DNA ngebuka mataku banger mbam aku pro vaksin to belum tahu banget manfaatnya tp baca ini jd semakin tercerahkan betapa penting momvaksin anak yaa.

    BalasHapus
  28. Imunisasi bener2 jadi prioritas untuk aku. Jadi jauh sebelum anak lahir udah harus paham bener apa saja imunisasi yang wajib dilakukan

    BalasHapus
  29. Sejak anak2 kecil kami selalu konsen ke imunisasi anak2 biar mereka tumbuh sehat dan jarang kena penyakit. Alhamdulillah ada penjelasan halalnya jg ya mbak. Semoga semua produsen vaksin jg makin sadar sama pentingnya mengurus status kehalalan vaksin.

    BalasHapus
  30. Betul ini. Imunisasi itu penting banget, sedih ketika ada temen yang anaknya gak imunisasi, padahal MUI sudah kasih fatwa halal. Hiks.

    BalasHapus
  31. Anak kedua nih belum imunisasi campak (sekarang 17bulan) waktu jadwalnya imun si Adek sakit, demam, abis itu lanjut batuk, lepas si Adek batuk gantian Kakak yang sakit jadi deh gak sempat aja gitu terus imun. 18 bulan masih kan ya, InsyaAllah klo Adek bayi nya imun BCG sekalian dengan doi juga deh campak.
    Emang yaaa masalah vaksin ini msh jadi PR juga buat semua, apalagi ilmuwan biar semua gak risau lagi perihal kehalalannya :)

    BalasHapus
  32. kalo aku mikirnya imunisasi lebih banyak manfaatnya, jadi wajib buatku. dulu mah yg ditakutin tuh anak jd hyperaktif kalo kebanyakan vaksin. jadi takut karna byk denger omongan orang yang "katanya"

    BalasHapus
  33. Anakku juga diimunisasi tapi kayaknya nggak terlalu lengkap soalnya kadang nggak sempat ke bidan. Imunisasinya ikuti yang di buku kia aja

    BalasHapus
  34. Alhamdulillah Azzam sudah dapatkan imunisasi lengkap, bingung juga tahu ada beberapa orang tua yang ga mau anaknya di imunisasi.
    Padahal imunisasi itu penting bagi pertumbuhan anak-anak

    BalasHapus
  35. Sejauh ini anak saya sudah lengkap imunisasinya sesuai dengan arahan bidan. Cuma kalau yang imunisasi tambahan di luar program pemerintah emang belum pernah sih. Yang penting imunisasi dasar sudah lengkap.

    BalasHapus
  36. Aku termasuk ibu-ibu yang manut sama dokter anak juga. Untuk urusan vaksin, deteksi penyakit aku percaya mereka lebih tahu. Dan akhamdulillah anak-anak gak ada masalah dengan vaksin. Semoga ikhtiar kita ini bermanfaat untuk masa depan anak ya, Mbak.

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir ke personal blog saya, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya.