Mengurangi Polusi Plastik Dengan Mencegah Sampah Plastik Ke Laut Dengan Menggunakan Interceptor 001

the ocean cleanup

Apa yang kita harapkan dari laut di Indonesia? Kalau saya paling utama adalah "laut di Indonesia harus bebas dari sampah plastik" ini pasti menjadi salah satu keinginan semua orang di Indonesia. Tapi tahukan bahwa Indonesia termasuk negara terbesar penyumbang polusi plastik di dunia? Berdasarkan hasil riset bahwa 80% sampah di laut berasal dari sungai, lalu bagaimana kita mengurangi polusi plastik tersebut?

Hal yang paling mudah dilakukan untuk mengurangi sampah plastik adalah dengan menekan penggunaan plastik untuk kehidupan sehari-hari. Ini juga bisa dimulai dari diri sendiri dan menularkannya kepada keluarga, teman dan menyebarkan di media sosial untuk pentingnya mengurangi penggunaan plastik.

Beberapa tips berikut bisa membantu untuk kurangi sampah plastik:
  1. Membawa botol minum sendiri, hal ini dapat mengurangi sampah boto plastik air mineral. Karena botol plastik merupakan sampah plastik yang paling sering dijumpai baik di laut maupun di sungai.
  2. Bawa bekal makanan, selain kemasan botol plastik, kemasa plastik juga menjadi sampah yang sering dijumpai. Jadi kalau jajan diluar bisa menggunakan tempat bekal makanan untuk mengurangi penggunaan wadah plastik. Selain itu membawa makanan dapat meminimalkan sampah plastik, bekal makanan juga akan mengurangi keinginan untuk jajan diluar. 
  3. Tidak menggunakan kantong plastik saat berbelanja, ini bisa disiasati dengan membawa kantong belanja sendiri dari rumah. Ini yang bisa saya lakukan sekarang ini, selalu membawa kantong belanja sendiri.
  4. Buang sampah pada tempatnya, sekarang sudah banyak dijumpai tempat sampah yang sudah dipisahkan berdasarkan kategorinya. Ini juga bisa memudahkan kita dalam mengurangi polusi plasti, dan harus dimulai dari kita sendiri untuk melakukan hal ini. 

Kerjasama Danone-AQUA dengan The Ocean Cleanup 
interceptor

Danone dan AQUA di Indonesia bekerjasama dengan The Ocean Cleanup melakukan riset pengumpulan sampah plastik di sungai menggunakan sistem InterceptorTM 001. Kerjasama ini juga didukung oleh Kementerian Koordinasi bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah DKI Jakarta dan Pemerintah Belanda.

Sampah plastik merupakan isu global yang sangat signifikan dan dampaknya tidak hanya pada lingkungan kita, namun juga terhadap perekonomian, pariwisata serta kesehatan. Oleh karena itu pemerintah Indonesia memiliki target untuk mengurangi sebanyak 70% sampah plasti di laut pada tahun 2025. 

Penting sekali untuk dapat mengurangi sampah plastik serta menggunakan prinsip circular economy yang bertujuan untuk mengurangi sampah plastik serta menggunakannya sebagai sumber daya secara terus menerus. 

Direktur Utama PT Investama (Danone-AQUA), Corine Tap, mengatakan "Kami sangat berbahagia dapat bekerjasama dengan The Ocean Cleanup untuk mengoperasikan sistem pertama yang bukan hanya dapat mencegah sampah plastik masuk ke laut, namun juga membantu membersihkan sungai-sungai. Sebagai merek kelahiran Indonesia dengan pengalaman lebih dari 46 tahun, kami senantiasa melakukan inovasi-inovasi dan fokus pada aksi nyata dalam mencapai tujuan dan membawa kebaikan kepada masyarakat. Kerjasama kami dengan The Ocean Cleanup merupakan bukti komitmen kami tersebut dan AQUA merasa bangga bermitra dengan The Ocean Cleanup untuk memulai penelitian ini. Sejalan denagan komitmen kami untuk mengumpulkan lebih banyak dari yang kita produksi, tahun lalu, kami menjadi pionir dengan meluncurkan gerakan #BijakBerplastik. Gerakan ini juga menjadi wujud nyata upaya kami untuk menumbuhkan budaya daur ulang serta tanggung jawab lingkungan di Indonesia melalui kerjasama dengan mitra dan juga jutaan konsumen kami."


Mengurangi Sampah Plastik ke Laut dengan Interceptor 001
Foto: Instagram @boyanslat
Dalam rangka untuk mengurangi sampah ke laut dengan memanfaatkan Interceptor 001 yang dikembangkan oleh The Ocean Cleanup. Interceptor 001 adalah sistem pertama yang diciptakan The Ocean Cleanup untuk mencegah masuknya sampah plastik ke laut lewat sungai. Interceptor 001 saat ini berada di drainase Cengkareng, Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

Interceptor 001 dapat mengambil puing-puing mulai dari berukuran besar seperti jaring penangkapnya yang ditinggalkan, hingga barang kecil seperti plastik yang bahkan berukuran 1 milimeter.

Sistem ini terlihat seperti jaring yang membentuk huruf U, bergerak sesuai arus dan mengumpulkan plastik atau sampah yang melewatinya. Binatang atau ikan tetap bisa lewat dan berenang seperti biasa di bawahnya.

Sistem ini sendiri sangat ramah lingkungan karena 100% bertenaga surya dengan baterai lithium-ion sehingga dapat beroperasi siang dan malam tanpa suara bising ataupun mengeluarkan asap. Sistem ini berfungsi untuk mengambil sampah plastik dari sungai, yang kemudian akan disortir, dan mencegah agar sampah tersebut tidak masuk ke laut.

Hingga saat ini, sudah ada empat Interceptor di dunia, dua diantaranya telah beroperasi di Jakarta (Indonesia) dan Klang (Malaysia). Sistem ketiga akan segera ditempatkan di Can Tho yang terletak di Mekong Delta (Vietnam) dan sistem keempat akan ditempatkan si Santo Domingo (Republik Dominika).



"Agar sampah benar-benar hilang dari laut, kita harus membersihkan sampah plastik yang sudah ada di laut dan disaat bersamaan, 'menutup keran' sampah plastik, yaitu sungai agar tidak ada lagi aliran sampah plastik masuk ke laut. Kerjasama dengan Danone digabung dengan mendekatkan yang sistematis dari The Ocean Cleanup serta program pembersihan sungai yang sudah dilakukan oleh pemerintah akan sangat membantu menciptakan laut Indonesia yang lebih bersih." ungkap Boyan Slat, Founder and CEO of The Ocean Cleanup.

"Sistem pembersih samudra kami kini mulai menangkap plasti, dari jala satu ton sampai keping mikroplastik!" -Boyan Slat

Faktanya 80% sampah di laut berasal dari sungai. Pemerintah Indonesia memiliki target untuk mengurangi sampah plastik di laut hingga 70% pada tahun 2025. Dalam periode 12 bulan, ada 3 tujuan utama riset:
  1. Plastic Waste Flow, mengukur kuantitas dan tipologi sampah plastik di sungai.
  2. Facility Design, mengembangkan sistem pemilahan yang efektif dan aman untuk memproses sampah plastik dari sungai.
  3. End Market Solution, mengindentifikasi teknologi dan industri yang mampu mendaur ulang sampah plastik dari sungai.
"Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bagaimana sistem ini dapat mengakomodir kondisi lokal juga mendesain solusi agar mesin dapat beroperasi secara efisien. Mencegah sampah plastik masuk ke laut dari sungai merupakan bagian penting dari sebuah solusi pengelolaan sampah di Indonesia. AQUA bekerjasama dengan pemerintah, komunitas pemulung, bank sampah dan pemangku kepentingan lain, membentuk program untuk mengumpulkan 12.000 ton sampah setiap tahun melalui 6 unit daur ulang (RBU) yang dikembangkan oleh AQUA bersama parner lokal untuk kemudian diolah kembali menjadi bahan baku botol baru." ungkap Corine Tap.

Dari hasil riset tentang Interceptor 001:
  1. Interceptor 001 dapat mengurangi 60% sampah di sungai yang menuju ke laut. Angka ini dapat meningkat terutama saat riset lanjutan yang akan dilakukan di musim hujan.
  2. Total sampah: 1,8 ton perhari atau 670 ton pertahun dengan pengoperasian 24jam/hari. Sampah plastik yang diambil sebesar 466 kg/hari atau sekitar 170 ton/tahun.
  3. Karakteristik sampah di sungai: 37,8% plastik, 59,5% organik, 8,8% plastik mulitlayer, 3,4% botol PLT, 76% plastik fleksibel, 0,1% bahan berbahaya beracun, 2,6% sampah jenis lain: popok, kayu dan kaca, 6,5% gelas plastik, 3,5% plastik rigid umum digunakan di rumah tangga dan 1,2% sedotan dan styrofoam.
  4. 20% sampah plastik dari sungai kotor sehingga nilai ekonomis relatif rendah dibanding sampah plastik di darat. Agar nilainya lebih baik, perlu dibersihkan dan dikeringkan.
  5. Penting untuk menjaga agar sampah plasti tidak masuk ke sungai. Jika di darat maka sampah plastik dapat lebih mudah didaur ulang dan mendorong ekonomi sirkulasi.

The Ocean Cleanup dan Boyan Slat

The Ocean Cleanup mengembangkan teknologi maju untuk membersihkan laut dunia dari sampah plastik. Didirikan pada tahun 2013 oleh Boyan Slat, The Ocean Cleanup berada di Rotterdam, Belanda. Boyan Slat, anak muda yang berasak dari Belanda. Ia tidak lulus kuliah dan kini berusia 25 tahun. Boyan Slat mulai mengumpulkan sampah plastik dari sebuah daerah yang dikenal sebagai The Great Pacific Garbage Patch atau kumpulan sampah plasti yang luas di Pasifik.




Senang sekali rasanya saya dan teman-teman yang bisa hadir ke acara Innovation on Waste Management River Plastic Interceotion. Besar harapan saya, dengan adanya Interceptor ini semoga dapat mengurangi sampah plastik yang masuk ke laut. Tak hanya bergantung dengan alat tersebut, namun kita juga bisa ikut menyukseskannya dengan melakukan #BijakBerplastik yang dimulai dari diri sendiri. 

6 komentar

  1. Keren nih inovasinya...Semoga dengan alat ini laut jadi semakin bersih ya...Tapi emang harus diikuti kesadaran masyarakat untuk tidak mebuang smapah di sungai juga sih ya...

    BalasHapus
  2. Penting nih menjaga laut tetap bersih. Secara wilayah negara kita 2/3 adalah perairan, ya

    BalasHapus
  3. Inovasi yang keren dan inovatif ya mba Chie untuk mengurangi polusi plastik. Tapi selain itu, kesadaran dari diri sendiri juga penting ya sebagai bagian dari usaha kita untuk mengurangi polusi plastik

    BalasHapus
  4. Interceptor ini teknologi yg canggih bgt dan bisa jadi solusi jitu utk masalah sampah plastik yak. Semoga terobosan Danone juga bisa ditiru oleh perusahaan lain.

    BalasHapus
  5. Semoga sukses dan membuat lautan kita bersih, bebas plastik. Jangan sampai cucu dan cicit kita mendapat warisan lautan sampah...

    BalasHapus
  6. Patut diapresisasi nih kegiatan AQUA demi lingkungan ini. Karena memang sampah plastik dan botol air mineral mendominasi dalam jumlah sampah. sedih kalau tidak ditangani dengan baik.

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir ke personal blog saya, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya.