Nice to meet you!

Holla... Saya Chichie, penggemar hot latte dan americano. Hobinya nenteng kamera karena setiap jepretan adalah cerita yang indah. Indonesian Lifestyle Blogger and love travelling.
Suciarti Wahyuningtyas (Chichie)

What Read Next

Mengenal dan Mengantisipasi Lahan Gambut di Indonesia

akuchichie

Waktu diajakin untuk diskusi soal Lahan Gambut di Indonesia, awalnya sempat ragu sih tapi berujung penasaran dengan Lahan Gambut yang ada di Indonesia. Masalahnya saya belum pernah ke Lahan Gambut di Indonesia, makanya ini menarik bagi saya waktu tau kalau Ngobrol Tempo akan membahas "Bagaimana Antisipasi Indonesia di Lahan Gambut Tahun 2020".

Sebenarnya ketertarikan ini karena beberapa waktu lalu kita semua tau kalau terjadi kebakaran hebat di Australia, makanya ini yang membuat saya semangat untuk hadir diacara diskusi tersebut. Ternyata di Indonesia sendiri juga mengalami kebakaran hutan pada bulan September 2019 dan ini merupakan yang terbesar setelah tahun 2015. 

Diskusi kali ini menghadirkan bapak Nasir Foead, Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), bapak Prof. Bambang Hero Saharjo, Guru Besar Kehutanan IPB, ibu Lola Abbas, Koordinator Nasional Pantau Gambut, dan ibu Thati N.A, Petani Kalimantan Tengah. Mungkin untuk sebagian orang membicarakan Lahan Gambut tidaklah seasik membahas gosip selebriti, tapi apakah kita tau bahwa ini juga bisa berdampak untuk kita?


Apa Itu Lahan Gambut?
Photo by Mongabay.co.id
Lahan gambut adalah bentang lahan yang tersusun oleh tanah hasil dekomposisi tidak sempurna dari vegetasi pepohonan yang tergenang air sehingga kondisinya anaerobik. Material organik tersebut terus menumpuk dalam waktu lama sehingga membentuk lapisan0lapisan degnan ketebalan lebih dari 50 cm. Tanah jenis ini banyak dijumpai di daerah-daerah jenuh air seperti rawa, cekungan atau daerah pantai. 

Pada umumnya sebagian besar lahan gambut masih berupa hutan yang menjadi habitat tumbuhan dan satwa langka. Hutan gambut mempunyai kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah yang besar. Karbon tersimpan mulai dari permukaan hingga di dalam tanah, mengingat kedalamannya bisa mencapai 10 meter. 

Tanah gambut memiliki kemampuan menyimpan air hingga 13 kali dari bobotnya. Oleh karena itu perannya sangat penting dalam hidrologi, seperti mengendalikan banjir saat musim penghujan dan mengeluarkan cadangan air saat musim kemarau panjang. Kerusakan yang terjadi pada lahan gambut bisa menyebabkan bencana bagi daerah sekitarnya. 

Asia Tenggara merupakan tempat lahan gambut tropis terluas, sekitar 60% gambut tropis atau sekitar 27 juta hektar terletak di kawasan ini. Lahan gambut di Asia Tenggara meliputi 12% total luas daratannya. Sekitar 83% masuk dalam wilayah Indonesia, yang sebagian besar tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Lahan gambut di Indonesia mempunyai ketebalan 1 hingga 12 meter, bahkandi tempat tertentu bisa mencapai 20 meter. 

Di Indonesia sendiri, lahan gambut merupakan salah satu ekosistem yang penting. Sekitar 50% dari total lahan gambut yang ada di dunia, berada di Indonesia. 

Sumber foto: katadata.co.id
Tau dong kalau Indonesia merupakan negara kaya dengan sumber daya alamnya, karena itu Indonesia merupakan negara terbesar komoditi kayu, kertas dan industri kelapa sawit. Tapi sayangnya belakangan ini akibat ekspansi sektor bisnis kehutanan ini, deforestasi secara masif terus terjadi dan Indonesia kehilangan lebih dari setengan tutupan lahan gambut. Apalagi dampak dari kebakaran kehutan bulan September 2019 yang merupakan kebakaran terbesar di Indonesia.

Jenis-jenis Gambut
Tingkat kedalaman gambut berpengaruh terhadap jumlah kandungan karbon dan jenis tanaman yang dapat hidup di sekitarnya. Semakin dalam gambut, semakin banyak karbon yang terkandung di dalamnya. Terdapat empat jenis gambut yang ditentukan berdasarkan kedalamannya.

Karena lahan gambut dipengaruhi kondisi geografis dan faktor alam di mana mereka berada, karakter gambut di berbagai tempat pun berbeda. berikut ini adalah empat jenis gambut berdasarkan kedalamannya:

  1. Lahan gambut dangkal, yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50-100 cm
  2. Lahan gambut sedang, yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100-200 cm
  3. Lahan gambut dalam, dengan ketebalan gambut 200-300 cm
  4. Lahan gambut sangat dalam, dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm

Tingkat kedalaman gambut menentuikan jumlah kandungan karbon dan jenis tanaman yang dapat hidup di ekosistem tersebut. Semakin dalam gambut, semakin banyak karbon yang terkandung sehingga jika gambut tersebut dikeringkan, emisi karbon yang dikeluarkan akan semakin banyak.

Kurusakan Lahan Gambut
Masih ingat rasanya saat kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera, kejadiaan disaat musim kemarau pada tahun 2019 tersebut kembali memicu bencana asap di banyak daerah. Kalau berdasarkan data yang dimiliki Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) titik panas ditemukan di Riau sebanyak 58, Jambi sebanyak 62, Sumatera Selatan 115, Kalimantan Barat 384, Kalimantan Tengah 513 dan Kalimantan Selatan 178.

Kerusakan lahan gambut banyak terjadi karena ulah manusia, contohnya seperti konservasi hutan gambut menjadi lahan pertanian, perkebunan dan kehutanan. Sementara di Indonesia saat ini mengalami laju kerusakan tertinggi. Kerusakan terbesar diakibatkan oleh konservasi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan pulp. 

Tau dong ya gimana hutan-hutan di Indonesia itu dirusak? Pengrusakan lahan gambut diawali dengan proses pembabatan hutan (land clearing). Proses selanjutnya adalah pengeringan lahan yang bertujuan untuk mengeluarkan air yang terkandung dalam tanah gambut. Caranya dengan membuat parit atau saluran drainase agar air mengalir keluar.

Pengeringan pada lahan gambut mempunyai karakteristik tidak dapat kembali (irreversible). Sekali air dikeluarkan, gambut akan kehilangan sebagian kemampuannya untuk menyimpan air. Di musim kemarau akan rawan dengan kebakaran. Proses kebakaran hutan gambut merupakan pelepasan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer dan memusnahkan keanekaragaman hayati hutan. Sebaliknya di musim hujan tidak bisa menyerap air dengan baik yang menyebabkan bencana banjit. 

Bagaimana Mengantisipas Lahan Gambut di tahun 2020
Ibu Theti, Foto by Desy Yusnita
Yang menjadi menarik adalah saat perbincangan bagaimana cara mengantisipasi atau memulihkan lahan gambut di Indonesia. Kalau selama ini kita hanya dengar atau baca mengenai kebakaran hutan saja, tapi mungkin juga ada yang baru mengenal Badan Restorasi Gambut (BRG) Indonesia.

Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia (BRG) adalah lembaga nonstruktural yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada presiden. BRG dibentuk pada 6 Januari 2016, melalui Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2016 tentang Badan Restorasi Gambut. 

BRG bekerja secara khusus, sistematis, terarah, terpadu dan menyeluruh untuk mempercepat pemulihan dan pengembalian fungsi hidrologis gambut yang rusak terutama akibat kebakaran dan pengeringan. 

Badan Restorasi Gambut bertugas mencapainya tiga sasaran restorasi yaitu:
  1. Pemulihan hidrologi, vegetasi dan daya dukung sosial ekonomi ekosistem gambut yang terdegradasi.
  2. Perlindungan ekosistem gambut bagi penyangga kehidupan.
  3. Penataan ulang pengelolaan (pemanfaatan) ekosistem gambut secara berkelanjutan. 

Pengelolaan ekosistem gambut bertujuan untuk mencapai multi-manfaat, yaitu manfaat ekonomi, sosial, serta manfaat ekologi. Mengacu pada tujuan tersebut, rumusan program yang menjadi tanggung jawab BRG adalah Program Fasilitasi dan Koordinasi Restorasi Gambut di 7 Provinsi. 

Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Kalteng, ibu Theti N.A seorang petani asal Kalteng yang turut hadir diacara Ngobrol Bareng Tempo juga menegaskan bahwa "Untuk mengantisipasi lahan gambut, mereka melakukan cocok tanam bersama para perempuan di Kalteng". Dari ibu Theti ini saya mendapat banyak sekali insight, jika saja ini dilakukan oleh seluruh masyarakat yang memiliki lahan gambut pasti dapat mengantisipasi hal yang tidak diinginkan seperti kebakaran. 

"Sementara kalau di Kalteng untuk malakukan bercocok tanam dilakukan oleh perempuan, tidak ada laki-laki yang turut campur disana" menurut ibu Theti N.A. Banyak cara yang dilakukan oleh ibu Theti dan teman-teman di Kalteng untuk terus mengantisipasi lahan gambut. 

Selain itu bercocok tanam dilahan gambut ternyata bisa dengan tidak membakar lahan mereka, ini terus dikembangkan oleh masyarakat di Kalteng. Selain itu bercocok tanam juga dapat menumbuhkan perekonomian untuk mereka. 

Komentar

  1. kondisi udara Indonesia yang sedang kering saat ini menyebabkan biomassa menjadi kering sehingga mudah terbakar.

    Yang jadi kendala kita adalah sebagian besar lokasi yang masih mempunyai biomassa tinggi itu berada di areal gambut. Itu yang menyebabkan asapnya juga semakin tebal, sehingga mengganggu sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, kemarin pun disampaikan oleh bapk Fuad seperti itu juga.

      Hapus
  2. Gerakan cocok tanam khusus wanita ini keren banget. Bisa bersinergi bersama para wanita tanpa gangguan

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ini bisa mengantisipasi kebakaran di lahan gambut

      Hapus
  3. Wuihh dalam juga ya sampai 12 meter.
    Saya jadi ingat kampanye tentang gambut ini dulu, bahwa bukan sepenuhnya kesalahan manusia.
    Mungkin yang bertanggung jawab itu nggak merasa diri jadi.. ah sudahlah hahaha

    Semoga ke depannya lahan gambut ini bisa dipelihara dengan baik, bermanfaat layaknya gambut dan tidak ada lagi tangan-tangan jahil yang merusaknya dan merugikan banyak hal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul kak. saya suka heran padahal kan ini cukup basah tp kok bs kebakaran. pasti ini ada yg nakal deh

      Hapus
  4. makasih sharingnya sangat membuka wawasan

    BalasHapus
  5. Wow,saya baru tau kalau 50% lahan gambut dunia ada di indonesia...
    Seneng ya ada grb, semoga semakin terjaga :)

    BalasHapus
  6. MasyAllah mba, hutan gambut dan tanahnya itu ternyata banyak sekali manfaatnya dan memiliki peranan penting ya dalam kehidupan manusia terutama di Indonesia. Karena hutan gambut ternyata mampu mengendalikan air ya. Dia mampu menyimpan air dalam ukuran banyak dan bisa juga mengeluarkan air ketika musim kemarau. Harusnya dengan banyaknya hutab gambut di di Asia Tenggara termasuk Indonesia, bikin Indonesia harusnya jarang banget banjir ya. Tapi sebaliknya ya. Dan penyebabnya karena tangan manusia juga yang menebang hutan sembarang, buang sampah sembarangan dan melakukan pembakaran sembarangan. Sedih ya. Ngomong-ngomong diskusinya bergizi sekali mba ��

    BalasHapus
  7. Wow ternyata seluas itu ya lahan gambut di Indonesia. Kalau ga baca cerita Chichie aku ga kan tau. Ga apa-apalah ga usah tau gosip artis, mendingan bahas yang berfaedah gini hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul. saya jd ngeh ternyata di papua jg ada lahan gambut. dan bahkan jg banyak. tp kenapa kebakaran seringnya terjadi di Kalimantan y? apa karena pembukaan lahan sawit gitu

      Hapus
  8. Keberadaan hutan gambut cukup punya peranan ya mba terutama ketika menghadapi perubahan iklim
    Itu sebabnya pelestarian lingkungan harus diberdayakan secara tepat

    BalasHapus
  9. Mendengar lahan gambut yang terbakar,sedih mendengarnya terutama petani yang tinggal disana, semoga segala pencegahan selalu di galakkan dan diperhatikan oleh pemerintah pusat..

    BalasHapus
  10. Sedih banget ya Mba chichie, kalo lahan gambut di Indonesia itu lebih sering dibakar oknum. Padahal banyak sekali kegunaannya.

    BalasHapus
  11. Sebegitu pentingnya ya peran gambut thp hutan Indonesia. Apalagi di musim hujan dan kemarau.
    Untung ada BRG ini ya. Perlu edukasi lebih dalam tentang pengolahan gambut.

    BalasHapus
  12. Salut dengan perjuangan Ibu Theti dan teman-teman perempuannya di Kalteng dengan lahan gambutnya, semoga nanti tidak ada lagi kebakaran di lahan gambut yang bisa menyebabkan kerusakan alam.

    BalasHapus
  13. Kebetulan ada teman di Sumatra dan Kalimantan yang terkena dampak asap kebakaran lahan gambut. Ikut sedih, sebab dampak bagi kesehatan jadi ngga baik.
    Moga kedepannya lebih ketat tentang pemberian ijin, aturan hukum diperjelas dan ada penindakan tegas

    BalasHapus
  14. Semoga kesadaran masyarakat untuk memelihara lahan gambutnya dengan menanami kembali dan tidak membakar, makin meningkat ya demi kita semua

    BalasHapus
  15. Iya semoga saja saat kita mau menanam tidak merugikan siapapun apalagi merepotkan negara dan negara tetangga ribut juga soal asap kebakaran hutan.

    BalasHapus
  16. keren banget perjuangan Ibu Theti dan ibu-ibu lainnya. Semoga tidak ada kebakaran hutan lagi. Terlebih lahan gambut dibakar dengan alasan agar bisa ditanami/untuk bercocok tanama. Semoga perjuangan Ibu Theti berhasil.

    BalasHapus
  17. Kalau ingin masalh gambut tuntas memang perlu kepedulian banyak pihak ya...Tugas BRG yang berat mesti dibantu untuk pemulihan gambut pun pencegahan terjadinya lagi kebakaran hutan

    BalasHapus
  18. aku pernah tinggal di kalteng. jadi tahu seperti apa lahan gambut yg memesona itu. semoga saja lahan gambut di negara kita bisa terus lestari

    BalasHapus
  19. Pertama kali lihat pembakaran pasca panen sekitar tahun 2013. Awalnya bingung kenapa dibakar? Ternyata itu udah jadi budaya di kalangan petani yah. Dan aku baru tahu itu membahayakan :( beruntung pemerintah sigap dengan menghadirkan BRG ini. Semoga jangkauan BRG nakin meluas ke depannya.

    BalasHapus
  20. Wah salut sama bu Teti. ternyata di Kalteng, perempuan punya andil besar menjaga ekosistem alam yang luarbiasa. seneng juga ada audiensi seperti ini untuk membuka mata orang orang yang selama ini mikir satu satunya cara penyelesaian lahan gambut adalah dengan cara dibakar. keren pokoknya

    BalasHapus
  21. Keren banget event ini Maaak! Pasti ada banyak banget insight yang bisa bikin lebih banyak masyarakat yang memiliki lahan gambut aware dan pasti dapat mengantisipasi hal yang tidak diinginkan seperti kebakaran :')

    BalasHapus
  22. Kompleks banget kalo udah ngebahas gambut.Aku sebagai orang yg berkecimpung di dunia lingkungan kadang ngerasa ... arrrrgggg gemessss.

    BalasHapus
  23. Ternyata ada cara untuk menghindaei kebakaran hutan yah mba. Btw aku salut nih sama bu Theti, wonder woman banget deh. Smga banyak yang meneladani beliau menjaga hutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya perempuan inspiratif ya, bersama kelompoknya bertekad tidak lagi mencemari lingkungan dengan membakar lahan gambut serta tekun berusaha kegiatan pertanian yang lebih ramah lingkungan seperti yang sudah diteladankan. Keren!

      Hapus
  24. Semoga semakin terjaga ya lagan gambut d indobesia yg mngandung bnydk karbon dn mudah terbakar ini bisa dimanfaat ternyata

    BalasHapus
  25. Sbg masyarakat yg tinggal di lahan gambut aku kenal banget jg mba sm lahan ini. Dan kebakaran tahun kemarin membuat banyak belajar. Semoga para oknum pembakar lahan ini belajar dr bu theti.

    BalasHapus
  26. Kita harus jaga tanah gambut ini sipau bisa terus dipakai untuk memenuhi kebetuhan hidup, ya mbak

    BalasHapus
  27. Saya malah belum pernah sama sekali mengetahui kondisi langsung lahan gambut. Jadi nggak ada bayangan seperti apa mengelolanya. Di sini kebanyakan daerah hutan bakau yang memang beda vegetasinya dengan lahan gambut.

    BalasHapus
  28. Berhubung blm pernah ke kalimantan, blm pernanh tahu langsubg ttg gambut

    Baca ini jadi kebayang, nice sharing kak

    BalasHapus
  29. Bagus banget ide nya, semoga semakin banyak yang mengikuti cara ini ya mom.
    Selain bisa menurunkan potensi kebakaran, bisa meningkatkan ekonomi para petani juga ya mom.

    BalasHapus
  30. Semoga makin banyak bermunculan seperti Ibu Tethi yang usahanya tersebut menjadi inspirasi untuk mengingat agar stop deforestasi dan pembakaran, karena lahan gambut dan hutan sangat bermanfaat untuk kehidupan

    BalasHapus
  31. gambut bisa bermanfaat kalo diurus dengan benar yaaaaaa.. event ini bikin ku jadi dapet ilmu.. tadinya udah negthink aja sama gambut ini

    BalasHapus
  32. Semoga nggak ada lagi kebakaran lahan gambut,baik di Australia dan terkhusus lagi di Indonesia. Karena dampak yang ditimbulkan itu sangat besar.

    Karena lahan gambut di Indonesia bisa kita manfaatkan dengan baik dan bijak.

    BalasHapus
  33. Bener-bener perlu peran aktif dari berbagai pihak untuk mengatasi masalah kebakaran lahan gambut ya mbak. Peran BRG yang berkelanjutan dan kesadaran masyarakat untuk menjaga lahan gambut semoga bisa mengurangi kebakaran lahan gambut kedepannya. Aamiin. Terimakasih sharingnya mba Chichie :)

    BalasHapus
  34. Serasa diingatkan kembali dengan pelajaran IPA semasa sekolah dulu, hehehe.. Ternyata hutan gambut di Indonesia luas banget ya mbak, mudah-mudahan kedepannya nggak ada kebakaran hutan lagi..

    BalasHapus
  35. Semoga semakin banyak yang paham tentang karakteristik dan pengelolaan lahan gambut ini. Sehingga tidak perlu bakar-bakar lagi, dan alam jadi lestari..

    BalasHapus
  36. Makasih sharingnya kak, aku jadi tau sekarang tentang lahan gambut ini. Semoga dengan edukasi kepetani bisa mencegah kebakaran hutan gambut.

    BalasHapus
  37. Nah, ternyata bisa kan ya memanfaatkan lahan gambut tanpa harus membakar hutannya. Sedih banget lah melihat kebakaran hutan gambut yang kian hari kian besar. Ulah manusia membuat bumi ini makin berduka. :(

    BalasHapus
  38. Hutan gambut yang luas itu bisa jadi petaka kalau dibakar. Padahal ada solusi lain untuk memanfaatkan lahan gambut tanpa perlu dibakar. Semoga sosialisasi pentingnya hutan gambut ini bisa diterima oleh masyarakat luas.

    BalasHapus
  39. Untuk menyelesaikan masalah hutan gambut terutama kesadaran masyarakat itu sendiri dan harus turun tangan yang bertanggung Jawab masalah ini

    BalasHapus
  40. Bagus sekali nih informasinya untuk mengantisipasi hutan gambut. Mudah-mudahan saudara kita didaerah timur sana mulai lebih teliti masalah lahan gambut ya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir ke personal blog saya, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *