29 Juni 2022

Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi

optimalkan tumbuh kembang anak di masa transisi

Pandemi Covid-19 membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat, tak hanya di Indonesia bahkan untuk seluruh dunia. Dua tahun ini tentu memberikan rasa yang sangat berbeda dalam menjalani kehidupan, terutama dalam pola asuh anak. Dengan adanya penurunan kasus penularan virus membuat Indonesia memasuki masa transisi. 

Tak hanya terjadi pada orang dewasa, saat ini pun anak-anak sudah memulai rutinitas baru dan lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sosial. Termasuk pak suami yang sudah memulai aktivitasnya ke kantor, walau hanya seminggu 2-3 kali saja. Sedangkan anakku sudah mulai belajar kembali ke sekolah secara full sejak bulan ramadhan kemarin. 

Saat pandemi, anak-anak banyak pendampingan dan belajar bersama kedua orang tuanya di rumah. Ayah dan bunda juga saling berbagi peran, memang ini tidak mudah dijalankan. Tapi saya sendiri senang sekali dapat melihat tumbuh kembangnya selama dua tahun ini. Jadi kalau untuk keluarga saya, pandemi ini momennya bonding keluarga. 

Apalagi saat pandemi Covid-19 ini terjadi, anak saya berusia 6 tahun yang masih membutuhkan sosok ayah dan ibunya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Jadi waktu pandemi itu, anak saya senang sekali karena dia mendapati kedua orang tuanya ada di rumah sacara utuh. Dari waktu dia terbangun sampai tidur lagi masih selalu bersama ayah dan bundanya. 

Peran Keluarga Dalam Upaya Tumbuh Kembang Anak di Masa Pandemi
Pola asuh keluarga di masa pandemi

Keluarga atau orang tua harus memastikan bahwa anaknya sehat dan aman, memberikan sarana dan prasarana untuk mengembangkan kemampuan sebagai bekal kehidupan sosial, serta sebagai media dalam menanamkan nilai sosial dan budaya sedini mungkin. Orang tua harus memberikan kasih sayang, penerimaan, penghargaan, pengakuan, dan arahan kepada anaknya. 

Pada hari Selasa, 28 Juni 2022 saya mengikuti webinar dari Danone Indonesia dalam rangka menyambut Hari Keluarga Nasional 2022. Danone Indonesia bekerjasama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengangkat tema "Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi".

Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr. Irma Ardiana, MAPS menerangkan bahwa gaya pengasuhan mempengaruhi perkembangan kognitif, emosional dan sosial anak. Pengasuhan bersama menekankan komunikasi, negosiasi, kompromi dan pendekatan inklusif untuk pengambilan keputusan dan pembagian peran keluarga.

"Pengasuhan bersama antara ayah dan bunda menawarkan cinta, penerimaan, penghargaan, dorongan, dan bimbingan kepada anak-anak. Peran orang tua yang tepat dalam memberikan dorongan, dukungan, nutrisi dan akses ke aktivitas untuk membantu anak memenuhi milestone aspek perkembangan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi sangat penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi dan psiko-sosial sejak janin sampai dengan anak usia 23 bulan. Peran tim pendamping keluarga menjadi krusial untuk mendampingi keluarga berisiko stunting dalam pemberian informasi pengasuhan di Bina keluarga Balita. Pola asuh yang tepat dari orang tua dinilai mampu membentuk anak yang hebat dan berkualitas."

Beberapa komponen penting dalam pola asuh anak di masa pandmei Covid-19:
  1. Faktor nutrini, pola asuh gizi ibu merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi status gizi pada balita. Nutrisi terdiri dari kebutuhan karbohidrat, protein hewani, lemak dan lainnya. 
  2. Faktor stimulasi, anak sangat membutuhkan stimulasi dari orang tua. Stimulasi bisa diperoleh anak dengan berbagi cara, seperti mengajak bermain anak, berbicara dengan anak, atau membaca buku cerita untuk anak.
  3. Faktor proteksi, anak harus diproteksi dengan pemberian vaksin, terlebih di masa pandemi saat ini.
  4. Faktor evaluasi, mengecaluasi bagaimana perkembangan tumbuh kembang anak. Dengan menggunakan buku tumbuh kembang dan mencatatnya, membuat evaluasi orang tua akan lebih mudah.

Perubahan Sosial Emosional yang Terjadi Setelah Masa Transisi
stimulasi sosial emosional pada anak

Dua tahun belakangan tentu membuat anak-anak merasakan nyaman karena berada di lingkungan keluarganya, rumah. Begitu anak akan memulai aktivitasnya tentu ada rasa khawatir pada diri orang tua, apakah nanti anakku bisa ya menghadapinya sendiri? Ini yang sempat terbersit dalam hatiku, waktu anakku akan melakukan pembelajaran di sekolah. 

Tapi karena pandemi memberikan waktu bagi kami untuk terus memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembangnya, terutama dalam sosial emosionalnya. Pembatasan fisik dan sosial akibat pandemi akan menyebabkan masalah kesehatan yang mempengaruhi emosional, mental dan perkembangan terutama pada anak. 

Seperti yang diungkapkan oleh Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH mengungkapkan pentingnya bagi para orang tua untuk memahami perkembangan sosial emosional anak khususnya di masa transisi pandemi Covid-19.

"Agar anak-anak dapat beradaptasi kembali dengan normal, memiliki keterampilan sosial-emosional yang memadai, serta memiliki kemampuan berpikir yang baik, maka orang tua perlu memantau perkembangan sosial emosional anak secara berkala." 

Karena perkembangan emosi dan sosial berkaitan dengan kecerdasan otak dan sistem pencernaan yang sehat. Ketiganya saling terkait dan berpengaruh signifikan terhadap tumbuh kembang anak. Namun di masa transisi ini anak-anak mungkin akan kebingungan menghadapi perubahan ruang dan rutinitas baru saat kembali menjalani kehidupan dan melakukan interaksi sosial. 

Yang perlu diketahui bahwa perkembangan sosial emosional anak merupakan bekal penting membentuk karakter anak di mana pun ia berada. Pertumbuhan emosi sosial yang stabil diperlukan untuk menghadapi beragam tekanan, baik itu dari lingkungan keluarga sendiri, tekanan dari teman-teman bermainnya, hingga kritis yang lain di masa depan. 

Beberapa contoh keterampilan sosial-emosional yang harus dipelajari sedini mungkin:
  • Kemampuan mengenali jika orang lain merasa sedih, dan menanyakan apakah mereka baik-baik saja. 
  • Kemampuan mengekspresikan diri di depan teman-teman dan di depan orang tua dengan cara yang berbeda.
  • Kemampuan memahami pikiran dan perasaan diri sendiri, dan mampu berhubungan dengan orang lain. 

#HariKeluargaNasional2022

13 Juni 2022

Tips Belanja Perlengkapan Liburan Dengan Bijak

tips belanja perlengkapan liburan


Liburan sudah didepan mata nih bun... Apakah sudah memiliki rencana liburan bersama keluarga? Setelah merencanakan liburan, pastikan semua perlengkapannya sudah tersedia ya. Kalau pun harus beli, bisa beli sesuai dengan kebutuhan, jangan kalap ya. 

Mumpung masih ada waktu menentukan tempat liburan sambil mengecek perlengkapan apa saja yang dibutuhkan. Apakah harus beli baru atau sewa saja ya? Nah, aku mau kasih beberapa tips agar pengeluaran jajan perlengkapan liburannya gak boros nih. 

1. Menyusun Anggaran
Setelah rencana liburan dibuat, lalu buat anggarannya. Mulai dari anggaran membeli perlengkapan liburan, hotel, transportasi, oleh-oleh, wisata dan makan selama liburan. Jangan lupa semua ini harus dicatat ya, agar lebih mudah untuk melihat aliran uang masuk dan keluar pada akhir bulan. Total anggaran kalau bisa jangan lebih besar dari pendapatan ya, kecuali jika memang selalu menyisihkan dana liburan setiap bulannya. 

2. Tidak Membeli Secara Impulsif
Membuat list perlengkapan yang diperlukan sangat penting, agar kita bisa belanja lebih bijak dan tidak terlalu boros.  Karena biasanya kebanyakan orang akhirnya membeli banyak barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Meskipun untuk melawan godaan untuk membeli barang tersebut. 

Jangan membeli barang hanya karena tertarik pada tampilannya saja ya, siapa nih yang sering kayak gini? Jangan dilakukan ya, apalagi kalau sudah belanjanya online dan merasa banyak diskonnya. Jadi memang benar-benar harus dipikirkan kembali.

3. Perhatikan Penawaran dan Diskon
Biasanya nih kebanyak dari kita belanja itu bisa kalap kalau ada penawaran khusus atau diskon yang menggiurkan. Benar gak nih? Jangan tergoda dengan penawaran khusus atau diskon, karena ada lebih banyak yang dapat dibeli dengan harga yang rendah namun tetap berkualitas baik daripada membeli barang yang sama dengan harga yang lebih tinggi. 

Kan lumayan selisihnya nih bun, bisa untuk belanja keperluan yang lainnya selama liburan? Setuju gak? Karena biasanya kitakan suka gak kuat gitu lihat barang-barang lucu dibeberapa tempat wisata. 

4. Riset Sebelum Membeli 
Biasanya produk yang kita pilih untuk dibeli ini tersedia dibeberapa tempat, kita juga bisa membandingkan dengan toko sebelah nih. Apalagi kalau belanjanya melalui toko online, ini pasti akan jadi perbandingan sebelum membeli. Jangan lupa selalu teliti untuk mengetahui produk yang akan dibeli.


Semakin Mudah Akses JNE Loyalty Card (JLC) di Aplikasi My JNE
akses ke akun jlc melalui myjne

Setelah membuat rencana liburan, anggaran liburan dan juga belanja perlengkapan liburan, ternyata kita masih bisa mendapatkan keuntungan jika berbelanja secara online dan bisa langsung cepat dikirim ke rumah loh. 

Jadi tuh ya JNE ini punya JLC (JNE Loyal Customer) yang bisa diakses melalui aplikasi MyJNE. JLC ini merupakan program keanggotaan yang ditujukan kepada pelanggan setia JNE, dimana telah memiliki lebih dari 45.000 member hingga saat ini. 

Setiap teman-teman melakukan pengiriman atau transakti di sales counter JNE akan langsung dikonversikan menjadi point JLC yang dapat ditukarkan dengan beragam pilihan hadiah berupa produk dan voucher. Mulai dari gadget, perlengkapan rumah tangga, e-voucher dan juga voucher ongkos kirim serta produk menarik lainnya. 

Tak hanya penukaran berupa produk dan voucher saja, ternyata kita sebagai pelanggan juga dapat melakukan donasi dengan point yang dimiliki. Wah... menarik sekali ternyata ya jika menjadi anggota JLC ini. 

Untuk teman-teman yang memiliki bisnis online, ini sangat menguntungkan sekali loh. Karena JLC ini bisa download aplikan MyJNE yang sekarang sudah tersedia di Play Store. Selain memudahkan kita untuk pengecekan point, penukaran point, cek transaksi dan memiliki kartu member dalam bentuk digital hingga informasi promo dari aplikasi My JNE. 

Seperti yang diungkapkan oleh pak Eri Palgunadi, VP of Marketing JNE "Bahwa dalam meningkatkan pelayanan dan inovasi tujuan kami adalah untuk memberikan pengalaman terbaik untuk pelanggan. Inovasi ini adalah salah satu wujud pengembangan teknologi yang berorientasi pada excellence service, agar kualitas pelayanan semakin maksimal dan memberikan kemudahan kepada pelanggan dalam menggunakan layanan JNE."

Siapa nih yang belum daftar JLC? Yuk! Segera daftarkan dan nikmati keuntungannya ya.